JAKARTA — Aktivitas operasional di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dipastikan berjalan normal walaupun kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menurunkan jarak pandang di tiga bandara regional Kalimantan lainnya.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Sepinggan Iwan Winaya Mahdardi di Balikpapan, Kaltim, Kamis, menyampaikan bahwa hambatan visibilitas imbas asap karhutla saat ini terjadi di tiga bandara Regional VI, yakni Bandara Supadio Pontianak, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, serta Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.
"Gangguan muncul pada pagi hari ketika asap masih tebal, lalu kembali normal setelah pukul 09.00 waktu setempat," katanya.
Biarpun situasi di Bandara Sepinggan relatif aman, ia memaparkan bahwasanya penundaan penerbangan dari bandara yang terpapar asap berisiko memberikan dampak tidak langsung pada jadwal lanjutan dari atau menuju Balikpapan, sehingga langkah mitigasi tetap disiapkan.
Sampai sekarang, belum ditemukan gangguan berarti atau pembatalan penerbangan di Bandara Sepinggan akibat paparan asap karhutla. Jarak pandang di area bandara dilaporkan masih aman berada di atas ambang minimum operasional, sehingga seluruh kegiatan penerbangan melenggang tanpa rintangan.
Faktor kondisi geografis Bandara Sepinggan yang landasan pacunya menghadap ke arah laut serta area sekitarnya yang terbebas dari aktivitas pembukaan lahan, dinilai ikut menyokong stabilitas visibilitas jika dibandingkan bandara lain di daratan Kalimantan.
Mengenai acuan keselamatan, dalam penerbangan batas minimum visibilitas ditentukan oleh ketentuan terbang yang berlaku. Pada penerbangan visual (VFR), batasan jarak pandang minimum umumnya berada di kisaran 5 kilometer. Adapun pada penerbangan instrumen (IFR), armada pesawat mampu mendarat di jarak pandang ratusan meter memanfaatkan instrumen bantu seperti Runway Visual Range (RVR).
Iwan menggarisbawahi bahwa penanganan karhutla menjadi tanggung jawab bersama. Manajemen bandara konsisten berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, hingga Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) demi mengantisipasi meluasnya imbas karhutla bagi warga maupun sektor transportasi udara.
Upaya pencegahan sejak awal terus disiapkan, termasuk langkah menghadapi potensi kemarau yang lebih panjang. Salah satu opsi yang dicadangkan pemerintah bila situasi memburuk yaitu rekayasa cuaca lewat Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna memicu potensi hujan dan meredam bahaya kebakaran lahan.
Hingga kini, pemantauan kondisi cuaca dan mutu udara di Bandara Sepinggan dilakukan berkala demi memastikan keselamatan operasional penerbangan.