Hadapi Anak yang Suka Berbohong dengan 6 Langkah Bijak Berikut Ini Yuk

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:53:01 WIB
Ilustrasi - Respons orang tua setelah mengetahui kebohongan justru bisa menjadi momen penting untuk mengajarkan anak soal kejujuran. (Foto: NET)

JAKARTA - Buah hati yang kedapatan berdusta tentu bisa membuat ayah dan bunda merasa geram. Terlebih jika ketidakjujuran itu timbul setelah si kecil mengerjakan sesuatu yang sejatinya dilarang. 

Keinginan spontan untuk memarahi buah hati mungkin saja muncul. Namun, tanggapan ayah dan bunda setelah mengetahui kebohongan justru bisa menjadi waktu krusial untuk mendidik si kecil perihal kejujuran.

Terlalu keras bisa menjadikan si kecil takut mengakui, sementara tanggapan yang pas dapat menolong si kecil lebih terbuka serta mau menceritakan apa yang sejatinya terjadi. Sebaiknya apa yang dikerjakan ayah dan bunda saat si kecil kedapatan berdusta?

Jangan langsung memarahi si kecil Ketika mengetahui si kecil berdusta, ayah dan bunda sebaiknya tidak langsung meledak atau menjadikan si kecil takut mengakui. Berikan peluang untuk menerangkan apa yang sejatinya terjadi.

Riset pada si kecil usia 4-9 tahun yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Child Psychology menemukan bahwa si kecil yang memperkirakan ayah dan bundanya akan memberikan tanggapan lebih positif ketika mereka mengakui juga lebih sering dilaporkan mengakui kesalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab itu, ketika si kecil kedapatan berdusta, ayah dan bunda bisa mengawali obrolan tanpa langsung menghakimi. Hal ini akan menjadikan si kecil tetap mengerti bahwa berdusta bukan tindakan yang benar, tetapi tidak merasa bahwa mengatakan kebenaran akan langsung menjadikannya dimarahi.

Cari tahu alasan si kecil berdusta Si kecil tidak senantiasa berdusta karena ingin menipu ayah dan bunda. Kebohongan bisa timbul karena beragam alasan, misalnya takut dimarahi, ingin menjauhi konsekuensi, mendapatkan sesuatu, atau sekadar mencoba melihat apa yang akan terjadi.

Jadi, setelah si kecil mengakui, ayah dan bunda dapat bertanya lebih jauh.

"Kenapa tadi kamu bilang begitu?"

"Waktu itu kamu takut apa?"

Pertanyaan semacam ini menolong ayah dan bunda memahami masalah di balik kebohongan, sekaligus mendidik si kecil mengenali perasaannya sendiri.

Jelaskan pentingnya berkata jujur Kejujuran juga perlu dididik, bukan hanya dituntut. Si kecil yang sebelumnya mengikuti diskusi mengenai benar dan bohong memberikan laporan yang lebih jujur dibandingkan si kecil yang tidak mendapatkan diskusi tersebut.

Artinya, ayah dan bunda bisa memakai waktu ketika si kecil berdusta untuk membicarakan mengapa kejujuran penting. Si kecil pun perlahan belajar bahwa jujur bukan sekadar aturan, tetapi cara untuk menyelesaikan masalah.

Tetap berikan konsekuensi atas kesalahannya Mendorong si kecil jujur bukan berarti kesalahan yang dikerjakan boleh dilewatkan begitu saja.

Ayah dan bunda tetap bisa memberikan konsekuensi yang pas dengan kesalahan si kecil. Bedanya, konsekuensi diberikan karena tindakan yang dikerjakan, bukan karena si kecil memilih untuk berkata jujur.

Dengan cara ini, si kecil belajar dua hal sekaligus, kejujuran dihargai, sementara kesalahan tetap harus dipertanggungjawabkan.

Ayah dan bunda juga perlu memberi contoh Si kecil tidak hanya belajar dari nasihat ayah dan bunda, tetapi juga dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Si kecil menilai pesan verbal ayah dan bunda perihal kejujuran dibandingkan perilaku yang mereka tunjukkan.

Hasilnya, ketika perkataan dan tindakan ayah dan bunda tidak konsisten, si kecil lebih banyak mengandalkan perilaku ayah dan bunda dalam menilai bagaimana seseorang seharusnya bertindak.

Jadi, pesan "jangan berdusta" akan lebih kuat jika si kecil juga melihat ayah dan bundanya berupaya menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Ayah dan bunda juga bisa memberi contoh sederhana dengan mengakui kesalahan sendiri.

Hindari berdusta untuk membuat si kecil menurut Ayah dan bunda terkadang memakai kebohongan kecil agar si kecil mau mengerjakan sesuatu. Misalnya, "Kalau kamu tidak makan sayur, nanti dokter datang," atau "Kalau kamu tidak tidur, nanti polisi datang menangkap."

Kebiasaan tersebut juga perlu diperhatikan. Masih dari Journal of Experimental Child Psychology, riset terhadap 564 pasangan ayah dan bunda-si kecil di Singapura menemukan bahwa paparan si kecil terhadap instrumental lies, yakni kebohongan yang dipakai ayah dan bunda untuk membuat si kecil menuruti sesuatu, berkaitan dengan kecenderungan si kecil lebih banyak berdusta kepada ayah dan bunda.

Sebab itu, sebisa mungkin ayah dan bunda dapat mengganti kebohongan dengan penjelasan yang sederhana dan pas usia si kecil.

Si kecil yang kedapatan berdusta memang perlu diarahkan agar memahami pentingnya kejujuran. Namun, tanggapan ayah dan bunda pun menjadi bagian dari proses tersebut.

Terkini