Tren Kecantikan Beralih dari Kulit Putih ke Glass Skin yang Sehat

Kamis, 13 Agustus 2026 | 03:07:01 WIB
Ilustrasi kulit sehat [FOTO: NET].

JAKARTA - Sudut pandang serta persepsi publik mengenai kriteria wajah yang ideal senantiasa mengalami dinamika perubahan dari masa ke masa. Pada era terdahulu, mayoritas kaum hawa di Tanah Air sangat mengidam-idamkan rupa wajah putih cerah pucat sebagai tolok ukur utama kecantikan.

Adanya patokan standar tersebut sempat memicu banyak orang untuk berbondong-bondong mengubah rona pigmen asli kulit mereka.

Kendati demikian, seiring dengan meningkatnya tingkat literasi serta kesadaran akan esensi kesehatan jaringan kulit wajah, obsesi terhadap perubahan warna kulit tersebut kini mulai berangsur-angsur ditinggalkan.

Kalangan generasi muda kekinian mulai mengalihkan fokus perhatian mereka menuju pencapaian tekstur kulit yang dirawat secara menyeluruh dan holistik.

Perkembangan perilaku konsumen ini melahirkan sebuah pergeseran tren kecantikan anyar yang menempatkan kondisi wajah berkilau bening menyerupai kaca atau glass skin sebagai standar baru yang dinilai jauh lebih realistis dan relevan.

"Sekarang semua orang membicarakan tentang memiliki glass skin. Ini adalah the now-level of glow," ungkap Brand Lead Glow & Lovely, Ita Karo Karo, di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Transformasi gaya kecantikan menuju tren glass skin ini mendatangkan implikasi yang amat positif karena orientasi perawatannya kini berpusat pada upaya memulihkan fungsi fisiologis alami wajah, alih-alih memaksakan perubahan warna secara instan.

Apabila kesehatan fisik dari sel-sel kulit telah tercapai secara optimal, dampak psikologis berupa lonjakan rasa percaya diri akan hadir secara alami menyertainya.

Guna menggapai level kondisi wajah bening bak kaca, tindakan perawatan tidak cukup hanya bersandar pada pemakaian produk krim pemutih semata. Terdapat sejumlah parameter anatomi ilmiah yang mendasari manifestasi tampilan tersebut agar tampak jauh lebih segar, bugar, dan hidup secara alami.

"Pendekatannya adalah yang pertama itu bright. Lalu yang kedua itu teksturnya halus, dan juga bouncy. Terasa kenyal, lembap. Jadi tiga aspek inilah yang dapat mewujudkan kulit glass skin," jelas Research and Development Manager Glow & Lovely, Zulfa Hudaya.

Walau demikian, proses pencapaian kondisi ideal tersebut kerap kali terhambat oleh bermacam-macam permasalahan eksternal yang mendasar. Kendala tersebut bermula dari paparan debu serta polusi jalanan setiap harinya, hingga ancaman dehidrasi kronis akibat terlalu lama beraktivitas di dalam ruangan bersuhu dingin yang dilengkapi pendingin udara.

Dalam rangka mengatasi aneka hambatan tersebut, rutinitas membersihkan muka perlu dioptimalkan lewat penggunaan produk berformula ringan bebas kandungan alkohol yang berpotensi memicu timbulnya kemerahan.

Penerapan produk pembersih serta pelembap yang mengusung tekstur gel cair dengan formulasi perpaduan zat niacinamide, hyaluronic, serta pro-ceramide amat dianjurkan guna merawat tekstur kulit dari lapisan dalam.

Terlebih lagi, penambahan agen pencerah unggulan seperti vitamin C juga dipandang krusial untuk menyamarkan masalah flek noda hitam bagi para pemilik tipe kulit kusam.

Begitu seseorang berhasil memusatkan perhatian pada pembenahan masalah fisik jaringan kulit menggunakan produk perawatan yang tepat guna, efek domino yang ditimbulkan akan turut menstabilkan kesehatan mental pelakunya.

Fenomena tren glass skin terbukti ampuh membebaskan para perempuan dari adiksi membandingkan diri di platform media sosial, di mana mulanya mereka selalu bergantung pada fitur aplikasi penyunting foto demi menyembunyikan kekurangan fisik.

"Siapa yang tidak unggah foto lalu tidak pakai filter? One of the benefit with having glass skin adalah begitu sudah terjaga kondisi kulitnya, pada saat kami foto, ya sudah, no filter is fine," ucap Ita.

Selebritas sekaligus Brand Ambassador Glow & Lovely, Nicole Rossi, turut menyuarakan pentingnya merombak pola pikir agar terhindar dari jebakan tuntutan kesempurnaan semu di dunia maya.

Ia blak-blakan mengaku sempat berada pada fase krisis percaya diri yang mendalam tatkala menyaksikan tren kecantikan lalu-lalang di linimasa media sosial, sementara dirinya sendiri sedang berjuang mengatasi masalah jerawat yang meradang.

"Aku sempat ada fase di mana aku sangat insecure sama kulit aku. Apalagi waktu itu banyak banget yang ngetren glass skin, aku melihat itu lewat, aku yang kayak 'hah, pengen' gitu," ungkap Nicole.

Pengalaman personalnya dalam berdamai dengan rasa tidak nyaman tersebut membuktikan bahwa tahap penerimaan diri (self-acceptance) merupakan fondasi paling awal sebelum seseorang memutuskan memulai rangkaian perawatan apa pun.

Nicole menegaskan bahwa titik fokus yang benar seharusnya diarahkan pada upaya konsisten memelihara kesehatan kulit, bukannya mati-matian menuruti standar fana yang mustahil dicapai.

"Menurut aku tidak ada standar kecantikan. Kami semua bisa menjadi versi terbaik dari diri kami sendiri. Bukan fokus ke standar kecantikan, karena yang ada kalau kami memikirkan ke sana terus, kami jadi merasa insecure terus," tuturnya.

Terkini