Pengolahan Sampah Plastik PLN di Makassar Naik 20 Ton

Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:51:32 WIB
Pengolahan sampah plastik [FOTO: NET].

JAKARTA - PT PLN (Persero) menargetkan peningkatan volume pengolahan limbah plastik melalui inisiatif ekonomi sirkular di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan, hingga dua kali lipat menjadi 20 ton demi memperluas jangkauan pemasaran barang daur ulang skala nasional.

Upaya tersebut direalisasikan lewat program pendampingan yang dimotori oleh PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) bersinergi dengan mitra binaan perusahaan, yakni Rappo Indonesia.

Semenjak kemitraan ini terjalin pada penghujung tahun 2024 silam, program tersebut tercatat telah mengolah kurang lebih 10,5 ton material limbah plastik keras menjadi berbagai jenis barang bernilai guna seperti perabot furnitur, plakat penghargaan, hingga ragam aksesori.

Officer TJSL PLN UID Sulselrabar Khairunnisa menuturkan bahwa eskalasi target kapasitas ini disiapkan sebagai bentuk antisipasi terhadap dinamika laju ekonomi perkotaan serta masalnya pasokan sampah plastik yang bersumber dari sektor kafe hingga area perkantoran di Makassar.

"Ke depan kami menargetkan penyerapan sampah naik dari 10,5 ton menjadi 20 ton. Kami juga terdorong memperluas kolaborasi dengan instansi perkantoran dan korporasi agar volume sampah yang dikelola meningkat sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja," ujar Khairunnisa di Makassar, Minggu (9/8/2026).

Guna mengoptimalkan lonjakan volume produksi tersebut, pihak PLN menghadirkan sokongan fasilitas perangkat keras berupa mesin pencacah, unit oven, mesin injeksi, serta alat penunjang profil kayu.

Di waktu mendatang, perusahaan juga memproyeksikan pengadaan mesin press tambahan serta penyelenggaraan program sertifikasi keahlian resmi bagi para pekerja yang terlibat.

General Affairs Rappo Indonesia Riswanda Fatriansyah memaparkan bahwa material plastik yang diproses mayoritas berasal dari kategori polyethylene terephthalate (PET) serta high density polyethylene (HDPE) semacam botol air mineral dan kemasan oli, dengan kisaran volume pemrosesan rutin mencapai 50 kg hingga 100 kg per bulan.

Hasil akhir dari olahan limbah plastik itu dicetak menjadi ragam produk fungsional seperti meja, kursi, plakat, nampan, hingga aksesori yang dibanderol pada kisaran harga Rp75.000 sampai menembus angka lebih dari Rp3 juta per item.

"Produk hasil daur ulang ini tidak hanya dipasarkan di Makassar, tetapi juga telah menjangkau kota-kota besar di Pulau Jawa. Khusus produk plakat, pemasarannya bahkan sudah menembus pasar Jakarta," jelas Riswanda.

Di luar aspek komersialnya, ekspansi lini pengolahan limbah ini terbukti memberikan stimulus positif bagi sektor perekonomian warga pesisir, khususnya di kawasan Untia, Makassar.

Aktivitas produktif tersebut sekaligus sukses memberdayakan 20 hingga 25 orang tenaga kerja lokal, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan serta masyarakat dari kelompok ekonomi rentan.

Adapun kisaran penghasilan bulanan yang diterima para pekerja tersebut berada di angka Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.

Memasuki fase lanjutan, pihak Rappo Indonesia bersama PLN berniat memperluas cakupan ekosistem bisnis sirkular dengan merambah pengelolaan varian limbah jenis lain, seperti sampah organik serta kertas, guna meredam volume pembuangan akhir ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Terkini