Timnas Indonesia Tersingkir, Permainan Dinilai Masih Mentah

Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:38:02 WIB
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman [FOTO: NET].

JAKARTA - Timnas Indonesia gagal melangkah ke semifinal ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF 2026 setelah hanya finis di peringkat ketiga Grup A. Hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026) malam WIB membuat Garuda tersingkir. Kegagalan lolos dari fase grup ini menjadi yang keenam, setelah 2007, 2012, 2014, 2018, dan 2024, sekaligus kedua kalinya secara beruntun.

Dengan skuad terbaik dari kompetisi domestik, pasukan John Herdman tetap gagal bersaing dengan Vietnam dan Singapura. Dari empat laga, Timnas Indonesia hanya meraih dua kemenangan atas Kamboja dan Timor Leste, sekali imbang melawan Singapura, serta sekali kalah dari Vietnam.

John Herdman Belum Paham Sepak Bola ASEAN

Pengamat sepak bola nasional, Ibam Hariri, menilai John Herdman belum memahami karakter persaingan di Asia Tenggara. Ia menyoroti kekalahan 0-3 dari Vietnam sebagai bukti Herdman masuk perangkap taktik Kim Sang-sik.

"John Herdman belum terlalu memahami bagaimana karakteristik persaingan di level Asia Tenggara, khususnya ketika menghadapi Vietnam." "John Herdman benar-benar masuk perangkap Kim Sang-sik, di-outclass oleh Vietnam, dan begitu buntu," kata Ibam Hariri, Sabtu (8/8/2026).

Meski Garuda sempat menguasai jalannya laga, serangan berakhir buntu dan pertahanan rapuh. Tiga gol Vietnam tercipta dari celah di lini belakang.

Permainan Timnas Indonesia Masih Mentah

Ibam juga kecewa dengan hasil imbang melawan Singapura. Menurutnya, permainan Garuda masih sangat mentah bila melihat dua laga terakhir.

"Karena dari kekalahan menghadapi Vietnam, dari hasil imbang menghadapi Singapura, terlihat bentuk permainan Indonesia begitu mentah," sambungnya.

Ia menilai Timnas Indonesia seperti tidak mengenal karakter satu sama lain dan minim strategi alternatif. Bahkan, pergantian pemain serta penempatan posisi kerap tidak sesuai dengan visi Herdman.

"(Timnas) seperti tim yang belum mengenal satu sama lain, plan A, plan B, plan C-nya tidak berjalan, bahkan adjustment in-game, timing pergantian pemain, pemosisian pemain, dan pemilihan fungsi serta role pemain di atas lapangan nampak tidak sinkron dengan apa yang menjadi visi dari John Herdman," ujarnya.

Keputusan Salah Pasang Pemain

Ibam memberi contoh saat Herdman salah menempatkan pemain. Ia menyoroti peran Jordi Amat dan Rizky Ridho yang tidak berjalan optimal.

"Menaruh Jordi Amat sebagai sentral di skema 3-back dengan memainkan Rizky Ridho sebagai wide centerback sebelah kanan itu tidak sinkron karena hal tersebut kurang berjalan bersama Persija Jakarta di musim lalu ketika di bawah asuhan Maurizio Souza." "Tapi sayangnya memang John Herdman masih kekeh dengan pola tersebut, bahkan mempertahankan pola tersebut hingga 70 atau 80 menit." "Selain itu, yang tidak masuk akal karena Jordi Amat di Persija musim lalu pun lebih works ketika dirinya maju lebih sedikit ke depan sebagai gelandang bertahan." "Ketika memaksa Rizky Ridho bermain setinggi itu di area wide centerback tentu menjadi boomerang," tegasnya.

Terkini