Minat Buyer Tinggi, Tempe Berpotensi Tembus Pasar Amerika

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:58:31 WIB
Ilustrasi Tempe [FOTO: NET].

JAKARTA - Tempe, olahan pangan tradisional asli Indonesia, saat ini mengantongi peluang besar untuk menjadi produk unggulan di pasar Amerika Serikat. Kesempatan emas ini terbuka lebar pascamelonjaknya animo para pembeli pada ajang pameran internasional di Amerika.

Melansir informasi Indonesia National Police, Selasa (4/8/2026), Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan Indonesia di Washington, D.C. merekap bahwa produk olahan pangan Indonesia termasuk tempe, mencetak potensi nilai transaksi hingga 8,3 juta dollar AS atau berkisar Rp 150,7 miliar dalam perhelatan Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York, Amerika Serikat.

Atase Perdagangan Indonesia di Washington, D.C., Ranitya Kusumadewi menyampaikan pameran tersebut telah membukakan jalan bagi tempe untuk bertransformasi menjadi salah satu komoditas Indonesia yang berprospek menembus pasar AS.

"Kami terus memonitor berbagai tindak lanjut dari business matching yang dilakukan selama pameran untuk memastikan potensi transaksi dapat terealisasi menjadi kontrak ekspor. Selain potensi transaksi, kami melihat minat buyer yang sangat tinggi terhadap tempe, seiring dengan tren plant-based foods yang terus berkembang di Amerika Serikat," ujar Ranitya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Ranitya menerangkan, berdasarkan serangkaian agenda tatap muka bisnis bersama calon pembeli, tempe dinilai sebagai salah satu komoditas Indonesia dengan potensi paling besar untuk dikembangkan di ranah pasar AS.

Hal ini dipicu oleh maraknya tren konsumsi olahan berbasis nabati (plant-based), pangan fermentasi, serta gaya hidup sehat yang kian digandrungi di Amerika.

Kondisi tersebut mendorong lonjakan permintaan atas produk nabati dan menciptakan momentum bagi tempe untuk tampil sebagai champion product atau produk andalan Indonesia di pasar AS.

Biarpun mengantongi peluang manis, pemerintah menggarisbawahi krusialnya kesiapan para pelaku usaha.

"Minat pembeli yang tinggi perlu diimbangi dengan kesiapan pelaku usaha dalam menjaga kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pemenuhan standar mutu, serta penguatan strategi pengemasan dan pemasaran. Dengan begitu, peluang bisnis yang tercipta dapat terus menjadi ekspor yang berkelanjutan," jelas Ranitya.

Pada ajang SFFS tersebut, Paviliun Indonesia memboyong enam pengusaha dan UMKM. Komoditas yang dipajang mencakup kopi, kakao beserta olahan cokelat, camilan, dan mi instan. Di samping itu, menu makanan sehat layaknya tempe, sajian berbahan dasar kelapa, rempah dan bumbu dapur, madu, gula aren, hingga aneka olahan pangan lainnya turut dipamerkan.

Amerika Serikat sendiri berkedudukan sebagai pasar tujuan ekspor olahan pangan terbesar kedua bagi Indonesia setelah China.

Pada periode tahun 2025, pencapaian nilai ekspor produk pangan Indonesia ke AS terekam sekitar Rp 98,5 triliun, melonjak 14,06 persen dari periode tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 86,3 triliun (menggunakan kalkulasi kurs Rp16.500 per dollar AS).

Angka tersebut memberikan kontribusi sekitar 10,1 persen dari keseluruhan total ekspor pangan Indonesia ke pasar dunia yang menembus kisaran Rp 974,1 triliun pada tahun 2025.

Terkini