Mirae: Investor Cermati Keberlanjutan Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:41:32 WIB
Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menilai investor di pasar modal masih bersikap selektif karena belum sepenuhnya memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026 sebagai momentum yang berkelanjutan.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang meski kembali menguat, belum sepenuhnya didukung oleh saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk dana investor asing (foreign inflow).

“IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas. Kenaikan indeks lebih banyak ditopang saham-saham spekulatif, sementara investor asing masih mencatatkan net sell pada sejumlah saham berkapitalisasi besar,” ujar Rully sebagaimana keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Rully mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar belum sepenuhnya menjadikan data pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi sebagai katalis utama investasi. Hal itu terlihat dari masih tertekannya sejumlah saham berfundamental kuat.

Menurutnya, pelaku pasar saat ini tidak hanya melihat besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mencermati kualitas serta keberlanjutan sumber pertumbuhan tersebut.

“Selama arus dana asing belum kembali dan saham-saham berkapitalisasi besar belum menunjukkan penguatan yang lebih merata, investor masih cenderung bersikap selektif,” ujar Rully.

Selain itu, Rully menilai penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi domestik.

Menurutnya, penguatan yen Jepang setelah adanya intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat (AS) menekan penguatan dolar AS sehingga turut mendukung penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Kami masih melihat reli IHSG perlu dicermati secara selektif, hingga saham-saham berkapitalisasi besar dan arus dana asing menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten,” ujar Rully.

Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih mencatatkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan.

Namun demikian, menurutnya, kualitas pertumbuhan tetap perlu dicermati karena kenaikannya turut didorong oleh stimulus fiskal, basis belanja pemerintah yang rendah, serta faktor musiman.

Dia menjelaskan konsumsi pemerintah yang menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran, yakni sebesar 16,0 persen secara tahunan, didorong oleh pembayaran gaji ke-13, belanja pegawai, serta realisasi berbagai program pemerintah.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar produk domestik bruto (PDB) justru melambat menjadi 5,1 persen secara tahunan. Di sisi lain, ekspor neto mengurangi pertumbuhan sebesar 0,8 poin persentase karena impor meningkat lebih cepat.

“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 masih terlihat kuat, tetapi sumber pertumbuhannya belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik yang berkelanjutan. Sejumlah faktor pendukung berasal dari belanja pemerintah yang bersifat temporer sehingga ruang penguatannya diperkirakan akan lebih terbatas pada semester kedua,” ujar Novani.

Novani memperkirakan normalisasi belanja pemerintah setelah realisasi yang cukup besar pada semester I 2026, ditambah masih lemahnya kontribusi ekspor, berpotensi menekan momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026.

Dengan kondisi tersebut, Mirae Asset memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melambat ke bawah 5,0 persen secara tahunan pada kuartal III 2026 apabila tidak diimbangi faktor pendorong seperti penguatan investasi dan aktivitas manufaktur yang lebih signifikan.

Terkini