Ekonomi Bali dan Nusra Tumbuh Tertinggi pada Triwulan II 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:27:31 WIB
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan laporan bahwa perekonomian wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Nusra) berhasil menorehkan angka pertumbuhan paling tinggi di antara seluruh kawasan yang ada pada periode triwulan II tahun 2026, yakni menyentuh level sebesar 6,10 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pencapaian tingkat pertumbuhan tertinggi tersebut kemudian diikuti berturut-turut oleh Pulau Jawa yang mencatatkan angka sebesar 5,65 persen (yoy) serta wilayah Sulawesi yang berada di posisi berikutnya dengan capaian sebesar 5,53 persen (yoy). Secara akumulatif skala nasional, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia terpantau bertengger di angka 5,29 persen (yoy).

“Pertumbuhan ekonomi di Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Jawa, serta Sulawesi di atas pertumbuhan nasional,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ditinjau dari perspektif pola distribusi atau besaran porsi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Pulau Jawa hingga saat ini masih memegang takhta sebagai kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dengan menguasai pangsa pasar sebesar 56,47 persen, yang kemudian disusul oleh Pulau Sumatra dengan perolehan pangsa sebesar 22,50 persen.

Sementara itu, jika diamati dari sisi faktor sumber penggerak pertumbuhan, sektor-sektor utama yang menjadi motor penggerak perekonomian di Pulau Sumatra meliputi sektor perdagangan, bidang industri pengolahan, serta sektor pertanian. Adapun provinsi yang tercatat memberikan sumbangsih andil pertumbuhan ekonomi paling besar di kawasan ini adalah Sumatera Utara dengan besaran andil mencapai 1,17 persen.

Bergeser ke wilayah Pulau Jawa, pilar sumber pertumbuhan utamanya bersumber dari sektor industri pengolahan, bidang perdagangan, serta sektor konstruksi. Sedangkan wilayah provinsi yang menyumbangkan andil pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa dipegang oleh DKI Jakarta sebesar 1,55 persen.

Beralih ke kawasan Pulau Bali dan Nusa Tenggara, roda penggerak utama sumber pertumbuhan ekonominya ditopang oleh sektor pertambangan, bidang perdagangan, serta sektor administrasi pemerintahan. Provinsi Bali sendiri muncul sebagai wilayah yang memberikan andil pertumbuhan ekonomi paling besar di kawasan tersebut dengan torehan angka 2,77 persen.

Selanjutnya di wilayah Pulau Kalimantan, sumber utama pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor industri pengolahan, bidang perdagangan, dan sektor pertambangan. Provinsi yang menyumbangkan andil pertumbuhan ekonomi terbesar di wilayah ini adalah Kalimantan Timur dengan catatan angka sebesar 1,76 persen.

Pada kawasan Pulau Sulawesi, pilar penggerak utama pertumbuhan ekonomi bertumpu pada sektor industri pengolahan, bidang perdagangan, serta sektor konstruksi. Adapun provinsi yang mencatatkan andil pertumbuhan ekonomi terbesar di wilayah regional ini adalah Sulawesi Selatan dengan besaran andil mencapai 2,47 persen.

Di sisi lain, untuk wilayah Pulau Maluku dan Papua, sektor-sektor yang menjadi motor utama sumber pertumbuhan ekonomi mencakup industri pengolahan, bidang perdagangan, dan sektor konstruksi. Provinsi yang tercatat memberikan sumbangsih andil pertumbuhan ekonomi terbesar di kawasan timur ini adalah Maluku Utara dengan raihan andil sebesar 2,98 persen.

Sebagai catatan penting, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) mengalami peningkatan dari posisi Rp3.396,6 triliun pada triwulan II tahun 2025 lalu melompat menjadi Rp3.576,2 triliun pada periode triwulan II tahun 2026, sehingga secara keseluruhan struktur perekonomian nasional Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,29 persen (yoy).

Jika dilihat berdasarkan komponen sisi pengeluaran, sumber penopang pertumbuhan ekonomi terbesar disumbangkan oleh komponen konsumsi rumah tangga yang mencapai angka 2,67 persen, dengan laju pertumbuhan menembus 5,06 persen (yoy) serta memberikan kontribusi porsi terhadap PDB sebesar 53,32 persen.

Berikutnya, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) turut memberikan sumbangsih sebesar 2,06 percent terhadap laju pertumbuhan ekonomi, diiringi pertumbuhan sebesar 6,87 persen (yoy) dan pangsa kontribusi terhadap PDB di level 29,36 persen.

Komponen konsumsi pemerintah menyumbangkan andil sebesar 1,07 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi, dengan catatan pertumbuhan yang cukup tinggi mencapai 15,97 persen (yoy) serta kontribusi terhadap PDB sebesar 7,57 persen.

Adapun komponen konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 6,93 persen (yoy) dengan besaran sumbangsih kontribusi terhadap PDB mencapai 1,35 persen.

Sementara itu, kinerja sektor ekspor tercatat tumbuh sebesar 4,13 persen (yoy) dengan memegang porsi kontribusi terhadap PDB sebesar 23,13 persen. Di sisi sebaliknya, komponen impor mengalami peningkatan sebesar 8,82 persen (yoy). 

Mengingat posisi variabel impor bertindak sebagai komponen faktor pengurang dalam formula penghitungan PDB, maka komponen net ekspor tercatat memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Apabila dikaji dari sudut pandang sektor lapangan usaha, sektor industri pengolahan keluar sebagai sumber penggerak pertumbuhan ekonomi terbesar dengan mencatatkan andil sebesar 0,90 persen. Sektor andalan ini tumbuh sebesar 4,52 persen (yoy) serta menguasai pangsa pasar sebesar 18,50 persen terhadap total PDB.

Sektor perdagangan menyusul sebagai sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berikutnya dengan mengantongi besaran andil sebesar 0,83 persen. Lapangan usaha perdagangan ini tercatat tumbuh sebesar 6,39 persen (yoy) dan memiliki porsi pangsa sebesar 13,02 persen terhadap PDB.

Kemudian, sektor konstruksi menempati posisi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi selanjutnya dengan memberikan andil sebesar 0,62 persen. Sektor ini membukukan pertumbuhan sebesar 6,68 persen (yoy) serta memegang porsi pangsa sebesar 9,79 persen terhadap PDB.

Terakhir, sektor informasi dan komunikasi (infokom) turut memberikan andil sebesar 0,48 persen terhadap keseluruhan pertumbuhan ekonomi. Lapangan usaha bidang infokom ini tercatat tumbuh sebesar 6,97 persen (yoy) dengan kepemilikan pangsa sebesar 4,30 persen terhadap total PDB.

Terkini