Bahlil Sinyalkan Insentif untuk Mobil Listrik Baterai Nikel NMC

Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:27:40 WIB
Pemerintah Kaji Insentif untuk EV Berbasis Baterai Nikel NMC [FOTO: NET].

JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi sinyal bahwa pemerintah sedang merancang kebijakan guna menggenjot penggunaan baterai berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC), mencakup pengucuran insentif bagi kendaraan listrik berbasis NMC.

"Ke depan akan ke sana. Tenang, kami ada formulasinya nanti. Bagian salah satu strateginya," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tetap mengalokasikan perhatian besar terhadap pengembangan ekosistem baterai berbasis nikel atau NMC, kendati pemanfaatan baterai lithium iron phosphate (LFP) secara global kian meningkat. Menurut ia, baterai LFP lebih pas dimanfaatkan untuk kendaraan dengan kebutuhan jarak tempuh dekat. Sementara itu, baterai berbasis nikel masih mengantongi keunggulan untuk kendaraan yang memerlukan daya jelajah lebih jauh.

"Kalau yang jarak-jarak pendek itu LFP biasanya. Tapi kalau yang jarak panjang itu nikel masih lebih paten," tutur Bahlil.

Ketua Umum Golkar itu pun meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa LFP bakal sepenuhnya menggeser NMC hanya lantaran ongkos produksinya lebih murah. Ia menilai Indonesia menggemban kepentingan strategis untuk mengembangkan baterai berbasis nikel mengingat melimpahnya ketersediaan bahan baku di dalam negeri.

"Jangan ada yang mengatakan bahwa 'Oh LFP lebih murah'. Lebih murah ya namanya barang pendek ya murahlah. Kalau barang bagus mana ada yang murah? Saya ingin ekosistem baterai mobil kami itu ada semua di Indonesia," ujarnya.

Dalam momen yang sama, Bahlil menyampaikan bahwa pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) hasil kolaborasi Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) sudah siap diresmikan. Walakin, peresmian masih menanti jadwal dari Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan kepastian proyek yang sebelumnya ditargetkan mulai beroperasi dan diresmikan pada Juli 2026.

"Sudah siap diresmikan. Kami tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi. Kalau teman-teman mau lihat, silakan," kata Bahlil.

Adapun, fasilitas produksi baterai hasil kerja sama IBC-CATL bakal memiliki kapasitas produksi awal sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Pabrik yang bertempat di Karawang, Jawa Barat itu digarap oleh konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) bersama PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) dan IBC. CBL merupakan anak usaha dari CATL.

Konsorsium perusahaan-perusahaan tersebut pun mendirikan perusahaan baru khusus untuk mengelola pabrik baterai itu, yakni PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Menurut Bahlil, tuntasnya fasilitas itu menandai bertambahnya rantai industri baterai kendaraan listrik yang berhasil dibangun di dalam negeri. Ia menerangkan, sebelumnya Indonesia telah memiliki pabrik baterai hasil kerja sama dengan LG yang didirikan sewaktu dirinya masih menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala BKPM. Kini, pembangunan pabrik IBC-CATL menjadi proyek baterai kedua yang terealisasi setelah dirinya menjabat Menteri ESDM.

"Jadi sudah ada dua pabrik baterai yang kami bangun. Satu adalah LG di saat saya masih jadi menteri investasi, satu adalah CATL di saat saya sudah jadi menteri ESDM. Ini yang disebut hilirisasi, ekosistem baterainya kami bangun semua di negara kami," ujarnya.

Terkini