Indonesia Alami Deflasi 0,14% pada Juli 2026 Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:11:32 WIB
Bawang Merah hingga Emas Dorong Deflasi Bulanan Juli 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — Rangkaian komoditas tercatat memicu timbulnya deflasi di angka 0,14% secara bulanan atau month to month (MtM) sepanjang Juli 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengumumkan bahwa terdapat dua kelompok pos pengeluaran yang mengalami deflasi serta memberikan andil nyata terhadap terciptanya deflasi secara umum pada bulan kemarin. Masing-masing kelompok tersebut kompak mengalami deflasi sebesar 0,89% (MtM).

Walau demikian, sektor pengeluaran makanan, minuman dan tembakau memiliki sumbangsih andil yang jauh lebih dominan terhadap munculnya deflasi, yakni mencapai angka minus 0,26%.

"Komoditas dominan mendorong deflasi kelompok ini yaitu bawang merah dengan andil deflasi 0,11%, cabai merah dan cabai rawit dengan andil deflasi masing-masing 0,06%, telur ayam ras dan tomat dengan andil deflasi masing-masing 0,03%, serta jeruk dengan andil deflasi 0,02%," terang Ateng pada konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Di samping komoditas makanan, minuman dan tembakau, kategori pengeluaran lain yang turut mencatatkan deflasi sebesar 0,89% (MtM) adalah sektor perawatan pribadi serta aneka jasa lainnya. Kendati demikian, porsi andilnya terbilang lebih kecil yakni berada di angka minus 0,06%. Di dalam kelompok ini, komoditas utama yang menjadi motor penggerak deflasi adalah emas.

"Deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama didorong oleh deflasi emas perhiasan sebesar 3,58%, dan memberikan andil deflasi 0,08%," ujar Ateng.

Sebaliknya, masih dijumpai kelompok pos pengeluaran yang membukukan inflasi bulanan. Salah satu yang paling menonjol yaitu sektor transportasi dengan tingkat inflasi terpantau menyentuh 0,52% (MtM) serta menyumbang andil 0,06%.

Deretan komoditas yang secara signifikan mengerek kenaikan harga dalam kelompok transportasi adalah komoditas bensin dengan andil 0,08%, disusul sepeda motor, pelumas, serta oli mesin yang masing-masing mencatatkan andil inflasi sebesar 0,01%.

Ateng memaparkan bahwa bensin tetap mengalami inflasi kendati pada tanggal 1 Juli 2026 sempat terjadi pemangkasan harga pada sejumlah bahan bakar minyak nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, serta Pertamina Dex. Sementara itu, nilai jual Pertamax terpantau cenderung stabil.

Menurut penjelasan Ateng, dinamika inflasi bulanan tersebut masih terjadi lantaran posisi harga dasar komoditas itu relatif rendah pada rentang tanggal 1 hingga 9 Juni 2026, sehingga memunculkan adanya efek basis rendah.

"Pada tanggal 1-9 Juni 2026 harga Pertamax masih berada pada level Rp12.000-an sehingga jika Juli 2026 dibandingkan dengan tadi Juni 2026 harganya lebih tinggi atau mengalami inflasi secara rata-rata bulanya itu yang menyebabkan bensin masih mengalami inflasi," terangnya.

Di sisi lain, terdapat pula kelompok pengeluaran lain yang memperlihatkan laju inflasi secara lebih signifikan, yakni kategori sektor pendidikan sebesar 0,55% (MtM) dengan sumbangsih andil 0,03%. Komoditas yang mendominasi pergerakan ini mencakup biaya sekolah tingkat SD, taman kanak-kanak, serta layanan bimbingan belajar.

Terkini

DJP Evaluasi Kebijakan Pajak Marketplace Usai Diprotes

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:38:03 WIB

Emas Masih Tertekan, Gagal Tembus Resistance US$4.104

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:31:31 WIB

PMI Manufaktur RI Naik ke 50,2 pada Juli 2026

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:28:32 WIB

Rupiah Menguat, Simak Kurs Dolar AS di Bank Besar

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:22:01 WIB

Ragam Respons Pasar: IHSG Koreksi, Rupiah Naik Tipis

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:14:03 WIB