SMRA Bakal Luncurkan The Hood dan Strozzi Commercial di Serpong CBD

Jumat, 31 Juli 2026 | 00:43:31 WIB
Summarecon (SMRA) Siapkan Dua Proyek Komersial Baru di Serpong CBD [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) mengagendakan langkah ekspansi komersial baru yang berpusat di kawasan Serpong Central Business District (CBD) pada masa paruh kedua tahun 2026.

Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur, mengemukakan bahwa kawasan strategis tersebut telah sukses membangun basis pangsa konsumen yang kuat guna menopang beragam aktivitas kegiatan komersial.

Ia menambahkan bahwa roda pergerakan perekonomian di kawasan ini turut disokong secara kuat oleh keberadaan sejumlah fasilitas publik utama, seperti Summarecon Mall Serpong, SQP Hub, SQP Park, serta berbagai kelengkapan fasilitas penunjang lainnya yang menjadikan kawasan tersebut senantiasa aktif dan dinamis.

"Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Summarecon Serpong kami menyiapkan proyek The Hood kawasan komersial berkonsep lakeside retail neighborhood yang dikembangkan di atas lahan sekitar 10 hektare," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/7/2026).

Proyek kawasan komersial The Hood dijadwalkan mulai beroperasi pada bulan Desember 2026 mendatang serta diproyeksikan bakal menampung lebih dari 50 tenant pilihan yang mencakup berbagai sektor bisnis, mulai dari industri makanan dan minuman (food and beverages / F&B), pusat kebugaran (fitness center), lapangan olahraga padel, bioskop, gedung ruang pertunjukan, pusat perbelanjaan supermarket, fasilitas kesehatan (wellness), hingga konsep gerai toko buku modern.

Pada kurun waktu yang bersamaan, pihak Summarecon Serpong juga tengah mempersiapkan proyek komersial teranyar lainnya yang diberi nama Strozzi Commercial, yang mengambil lokasi strategis di sepanjang koridor Symphonia Boulevard di wilayah Serpong CBD.

Unit properti Strozzi Commercial tersebut rencananya akan dipasarkan dengan penawaran harga mulai dari kisaran Rp4 miliar per unitnya. Menurut pandangannya, pertimbangan dasar bagi para pelaku usaha dalam menentukan pilihan lokasi bisnis kini telah mengalami pergeseran tren.

Faktor tingkat strategis suatu lokasi semata kini dinilai belum memadai tanpa adanya jaminan eksistensi aktivitas keramaian yang konsisten di dalam kawasan tersebut. Kombinasi fungsi tata ruang yang memadukan area hunian, sarana pendidikan, pusat pekerjaan, serta zona rekreasi kini menjelma menjadi elemen krusial dalam membentuk siklus kebutuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Berdasarkan catatan laporan keuangan, emiten SMRA berhasil membukukan perolehan marketing sales sebesar Rp1,2 triliun pada kurun waktu kuartal I/2026 atau menorehkan pertumbuhan sebesar 37 persen apabila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Capaian positif tersebut berfungsi sebagai fondasi awal yang kokoh bagi pihak perseroan dalam upaya mengejar target perolehan marketing sales sepanjang tahun 2026 yang dipatok pada angka sebesar Rp5,2 triliun.

Hingga berakhirnya kuartal I/2026, kawasan Serpong masih mempertahankan posisinya sebagai motor penggerak utama pertumbuhan bisnis perusahaan. Angka pencapaian pra-penjualan di wilayah ini tercatat mengalami peningkatan sebesar 18,9 persen secara tahunan (year-on-year / YoY) hingga menyentuh level Rp1,12 triliun, bahkan diraih tanpa adanya agenda peluncuran proyek properti baru di sepanjang periode tersebut.

Sepanjang tahun 2026 berjalan, pihak SMRA mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure / capex) sebesar kurang lebih Rp2 triliun guna menopang jalannya ekspansi serta pengembangan kawasan terpadu pada tahun 2026.

Besaran alokasi dana tersebut terpantau tidak menunjukkan selisih yang signifikan jika dibandingkan dengan total anggaran pada tahun sebelumnya, di mana porsi penggunaannya difokuskan untuk memperkuat lini divisi pengembangan properti (property development) sekaligus memperkokoh portofolio aset properti investasi (investment property).

Direktur SMRA, Lydia Tjio, memberikan penjelasan bahwa struktur sumber pendanaan tersebut bersumber dari kombinasi antara ketersediaan kas internal perseroan serta dukungan fasilitas pinjaman perbankan yang ada.

Lydia menyebutkan bahwa dari total keseluruhan anggaran capex tersebut, sebanyak kira-kira Rp1 triliun dialokasikan secara khusus untuk sektor property development, sedangkan sisa Rp1 triliun lainnya dialokasikan guna membiayai lini investment property.

Terkini

Concacaf Tolak Proposal Baru FIFA Terkait FFE

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:22:02 WIB

Caroline Dubois Gabung Tim Manny Robles Untuk Babak Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:17:31 WIB

PSS Sleman Siap Hadapi Jadwal Padat Musim 2026/2027

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 04:16:01 WIB