Kalbar Jadi Pilot Project Peta Risiko Karhutla Gambut Nasional

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:39:01 WIB
Kemenhut Jadikan Kalbar Percontohan Peta Risiko Karhutla Gambut [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menetapkan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai wilayah model dalam pembuatan peta potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khusus wilayah lahan gambut guna mengoptimalkan aksi mitigasi berbasis sains.

"Penyusunan peta risiko tersebut dilakukan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui pemodelan baru yang disesuaikan dengan karakteristik ekosistem gambut dan kondisi spesifik wilayah," kata Penasihat Senior untuk Kerja Sama Internasional dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Israr Albrar dalam keterangan di Pontianak, Kamis.

Abrar menyampaikan bahwa pengembangan teknik pemutakhiran peta bahaya ini telah dirintis sejak tahun 2025 demi menciptakan hasil petetaan yang jauh lebih presisi dibanding cara-cara terdahulu.

"Metode penyusunan peta risiko karhutla sebenarnya sudah tersedia, namun kini kami menyempurnakannya agar dapat memberikan gambaran risiko yang lebih akurat. Kalbar menjadi lokasi percontohan penerapan metode baru ini," kata Israr di sela diskusi kelompok terarah penyusunan peta risiko karhutla gambut di Kalbar.

Dirinya menguraikan bahwa peta bahaya tersebut diharap mampu berfungsi sebagai fondasi untuk memperkokoh penanggulangan karhutla, khususnya tindakan pencegahan di zona-zona yang didominasi bentang alam gambut agar intervensi yang diberikan jauh lebih tepat sasaran.

Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat menerangkan bahwa pembuatan peta ini dikerjakan secara berjenjang serta sinergis dengan memadukan unsur kerentanan fisik hayati beserta faktor aktivitas manusia yang berdampak pada kerawanan api di suatu kawasan.

Menurut pandangannya, tahapan tersebut mencakup pembangunan kerangka simulasi, penentuan parameter ukur, hingga optimalisasi pemetaan ruang, sehingga melahirkan peta yang benar-benar mencerminkan situasi riil di lapangan serta layak dijadikan landasan akademis bagi perumusan kebijakan mitigasi karhutla.

Peneliti Lahan Gambut dan Iklim YKAN Nisa Novita mengemukakan bahwa pendekatan yang dirancang secara khusus ini diperuntukkan bagi kawasan gambut mengingat insiden api pada ekosistem tersebut jauh lebih sukar dipadamkan, memicu sebaran emisi gas rumah kaca yang masif, menimbulkan bencana asap, serta mengakibatkan kerusakan lingkungan yang memerlukan durasi pemulihan sangat panjang.

"Data Kemenhut menunjukkan hingga Juni 2026 luas areal terbakar di Kalbar mencapai 28.680 hektare atau sekitar 27 persen dari total luas kebakaran nasional. Sementara BPBD Kalbar elah memetakan 335 desa rawan karhutla yang tersebar di 14 kabupaten/kota," kata Nisa.

Ia membeberkan bahwa wilayah Ketapang, Mempawah, serta Kubu Raya menempati posisi utama yang diutamakan lantaran menyumbang sekitar 77 persen dari total keseluruhan area karhutla di Kalbar sepanjang rentang Januari hingga Juni 2026 berdasarkan pemantauan pihak Kemenhut.

Nisa menambahkan bahwa proses perumusan peta bahaya ini sekarang tengah memasuki fase akhir pemodelan serta evaluasi parameter sebelum nantinya dirangkum menjadi ringkasan kebijakan (policy brief) sebagai bahan masukan bagi Kemenhut guna menyempurnakan aturan penetapan kawasan rawan karhutla, utamanya pada hamparan lahan gambut.

Terkini