Pasar Wait and See Pertemuan The Fed, IHSG Dibuka Melemah

Senin, 27 Juli 2026 | 22:38:01 WIB
IHSG Berpotensi Melemah Menanti Pertemuan The Fed Pekan Ini [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari Senin terpantau bergerak mengalami pelemahan di tengah sikap para pelaku pasar yang memilih untuk bersikap wait and see atau menanti hasil dari pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS), yakni Federal Reserve (The Fed).

IHSG pada awal pembukaan sesi tercatat melemah sebesar 10,63 poin atau setara 0,17 persen ke level 6.185,80. Sementara itu, kelompok 45 saham lapis unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 ikut merosot 2,07 poin atau 0,34 persen ke posisi 612,72.

"IHSG diperkirakan bergerak cenderung melemah dengan kisaran support di level 6.060 dan resistance di level 6.300. Selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar sebagai respons atas sentimen pasar,” ujar Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Dari kancah perekonomian global, Hendra memaparkan bahwa penurunan harga komoditas minyak mentah dunia berdaya redup dalam meredakan kekhawatiran pasar terhadap ancaman lonjakan inflasi global, sekaligus meringankan beban tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral serta memangkas risiko pembengkakan biaya energi bagi sektor dunia usaha.

Bagi negara Indonesia yang hingga kini masih mengandalkan pasokan impor minyak, ia menyebutkan bahwa pelemahan harga minyak tersebut turut berpotensi mendatangkan sentimen positif terhadap stabilitas inflasi domestik, kinerja neraca perdagangan, serta ketahanan nilai tukar mata uang Rupiah.

"Terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel,” ujar Hendra.

Di samping itu, para pelaku pasar kini tengah mencermati dengan seksama agenda pertemuan bank sentral AS The Fed melalui forum Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli 2026 pekan ini, guna merumuskan arah kebijakan suku bunga acuan selanjutnya.

Tidak hanya itu, para investor juga mengamati arah kebijakan moneter yang bakal ditempuh oleh Bank of Japan (BoJ) dan Bank of England (BoE), di samping mencermati rilis data indeks inflasi PCE Amerika Serikat, laju pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026, data pesanan barang tahan lama (durable goods orders) AS, hasil rapat pleno Politbiro China, serta angka indeks PMI manufaktur China.

Sementara itu dari dalam negeri, dinamika pasar turut diwarnai oleh pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Hendra menilai bahwa munculnya sentimen tersebut terjadi di tengah situasi global yang memang masih menyuguhkan berbagai tantangan berat, mulai dari bayang-bayang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya tingkat volatilitas bursa global, hingga eskalasi ketegangan geopolitik yang mendorong para investor mengambil sikap wait and see.

Di sisi lain, ia mengemukakan bahwa penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI memberikan sinyal kepastian bahwa kesinambungan arah kebijakan moneter nasional akan tetap terjaga dengan baik.

Menurut pandangannya, sosok Destry merupakan bagian integral dari tim perumus kebijakan Bank Indonesia sepanjang beberapa tahun terakhir, sehingga pasar secara umum meyakini tidak bakal terjadi pergeseran kebijakan yang drastis selama masa transisi kepemimpinan ini berlangsung.

“Hal tersebut juga tercermin dari pergerakan rupiah yang masih relatif stabil di kisaran Rp17.953 per dolar AS atau melemah sekitar 0,23 persen, sehingga menunjukkan bahwa pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap kabar tersebut,” ujar Hendra.

Bagi kalangan investor, ia menegaskan bahwa kursi kepemimpinan Gubernur BI memegang peranan yang sangat vital karena setiap keputusan strategis terkait besaran suku bunga acuan, kebijakan nilai tukar, instrumen pengendalian inflasi, hingga ketentuan makroprudensial akan berdampak langsung pada pergerakan rupiah, pasar instrumen obligasi, maupun performa IHSG.

Menengok catatan perdagangan pada hari Jumat (24/07) pekan kemarin, bursa saham kawasan Eropa ditutup kompak di zona hijau. Indeks Euro Stoxx 50 menguat 1,14 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,91 persen, indeks DAX Jerman terkerek naik 1,36 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,88 persen.

Sementara itu, bursa saham Wall Street di Amerika Serikat pada hari Jumat (24/07) bergerak secara variatif (mixed). Indeks S&P 500 mencatatkan penguatan tipis 0,05 persen ke level 7.411,98, indeks Nasdaq Composite melemah 1,15 persen ke posisi 28.128,81, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,46 persen ke angka 51.947,25.

Beralih ke bursa saham regional Asia pada perdagangan pagi hari ini, pergerakannya terpantau bervariasi: indeks Nikkei menguat 0,10 persen ke level 64.578,00, indeks Shanghai naik 0,18 persen ke posisi 3.820,45, indeks Hang Seng menguat 0,23 persen ke 25.019,72, indeks Kospi terkoreksi melemah 1,18 persen ke 6.611,93, serta indeks Strait Times melemah tipis 0,27 persen ke level 5.572,94.

Terkini