Cerita Haru Marc Cucurella Besarkan Buah Hati dengan Kondisi Autisme

Minggu, 26 Juli 2026 | 19:32:32 WIB
Kisah Haru Marc Cucurella Besarkan Anak yang Didaignosis Autisme [FOTO: NET].

JAKARTA - Kemenangan tim nasional Spanyol merengkuh gelar juara Piala Dunia 2026 menghadirkan sukacita mendalam bagi segenap pemain serta suporter setianya. Kendati demikian, di balik gegap gempita pesta perayaan tersebut, terselip sebuah narasi personal yang amat mengharukan dari salah satu pilar andalannya.

Pesepak bola yang memperkuat lini pertahanan tim nasional Spanyol sekaligus Real Madrid, Marc Cucurella, ternyata menyimpan lembaran hidup yang secara fundamental merombak cara pandangnya di luar garis lapangan. 

Segala ketetapan krusial dalam eksistensi pria kelahiran Alella, Catalonia ini, termasuk keputusannya membiarkan rambut ikalnya tergerai tanpa ikatan di atas rumput hijau, rupanya dilatari oleh keperluan khusus putra sulungnya, Mateo. Buah hatinya tersebut mengidap kondisi autisme.

Perjalanan Marc Cucurella mendukung sang buah hati yang mengidap autisme

Rambut sebagai tanda pengenal

Jika khalayak kerap memantau penampilannya bertanding, salah satu ciri khas yang melekat pada atlet berumur 27 tahun ini adalah mahkota ikal gondrong yang senantiasa dibiarkan terurai.

Dihimpun dari pelbagai referensi pada hari Minggu (26/7/2026), model rambut yang ikonik ini kerap kali menyedot perhatian khalayak ramai manakala ia beraksi di tengah lapangan pertandingan.
Namun, adakah yang mengetahui bahwa tersimpan motif emosional di balik gaya rambut tersebut? Ia dengan sengaja memilih untuk tidak menguncir rambutnya, semata-mata agar Mateo dapat lebih mudah mengenali sosoknya tatkala ia berlaga di tengah lautan penonton stadion.

Detail sederhana namun sarat makna ini menjelma sebagai manifestasi nyata betapa terpaut eratnya ritme karier sepak bola profesional dengan perannya sebagai seorang ayah.

Belajar menjadi orangtua dari anak dengan autisme

Sewaktu membagikan kisah personalnya melalui siaran La Media Inglesa serta dalam sinema dokumenter berjudul "Married to the Game", Cucurella menuturkan pengalaman batinnya dalam merawat sang anak, yang terbukti sukses menjungkirbalikkan dinamika keseharian keluarganya.

"Ketika kami berbicara tentang Mateo..." ucap Marc Cucurella sesaat sebelum ia meneteskan air mata.

Sosok jebokan akademi muda Barcelona, La Masia, ini memaparkan bahwa tidak jarang para orangtua dilanda kebingungan hebat lantaran ketiadaan bekal kesiapan mental manakala buah hati mereka divonis menderita kondisi tersebut.

"Oke, anak kamu autis. Namun, orangtua tidak siap untuk ini. Kami harus mempelajari semuanya dari awal," katanya.

Gejala-gejala pendahulunya sejatinya telah mulai terpantau sejak Mateo masih berada di fase usia bayi. 

Di dalam sesi wawancara eksklusif bersama surat kabar El País, ia mengenang kembali bahwa pada mulanya pihak keluarga sempat mengira sang anak sekadar menari kegirangan lantaran refleks mengepakkan kedua tangannya tiap kali mendengarkan alunan musik.

Seiring berputarnya waktu, mereka mulai menangkap kejanggalan berupa sejumlah pola perilaku lain yang tampak kontras dibandingkan anak-anak seumurannya, sampai pada akhirnya rangkaian asesmen klinis memvalidasi diagnosis autisme tersebut.

"Bagian tersulitnya adalah kamu tidak tahu bagaimana kamu bisa membantu," ucap Cucurella.

Ia mengaku kerap dibekap rasa tak berdaya tiap kali menyaksikan buah hatinya kedapatan menghadapi hambatan tatkala mengenyam pendidikan di institusi sekolah umum.

Sang anak berulang kali pulang ke rumah dalam kondisi menitikkan air mata, bahkan tak jarang pula harus lekas dijemput oleh orangtuanya meski baru menghabiskan durasi beberapa jam saja di lingkungan sekolah.

Pasangan hidup Cucurella, Claudia Rodriguez, turut membagikan betapa berat serta menguras emosi fase tersebut bagi mereka berdua. Akibat minimnya topangan sistem pendukung yang memadai tepat setelah vonis diagnosis dijatuhkan, mereka terpaksa berjuang secara mandiri menggali segala literatur seputar autisme demi mengakomodasi kebutuhan tumbuh kembang Mateo.

Berbekal pengalaman penuh terjal itulah mereka pada akhirnya menyadari bahwa setiap anak penyandang autisme memiliki spektrum perkembangan yang beragam, sehingga kehadiran sesi terapi serta intervensi spesialis menjelma menjadi hal yang bernilai tinggi.

Menjadikan kebutuhan keluarga sebagai prioritas utama

Memasuki fase saat ini, rangkaian sesi terapi telah bertransformasi menjadi pilar esensial yang menyatu dengan agenda harian di kediaman mereka. 

Segala macam bentuk agenda domestik, mulai dari rancangan liburan, preferensi asupan makanan, susunan jadwal harian, hingga keputusan perpindahan tempat tinggal, menuntut perencanaan yang terperinci dan matang.

Menjaga stabilitas rutinitas yang terstruktur serta memastikan mereka lekas kembali beradaptasi dengan lingkungan yang familiar terbukti sangat ampuh meredakan kecemasan Mateo sekaligus menghindarkannya dari rasa gelisah berlebih.

Kondisi tersebut tanpa diduga turut menyetir arah haluan perjalanan karier sang pesepak bola. Mantan penggawa lini belakang Chelsea, Eibar, Getafe, serta Brighton & Hove Albion ini secara terbuka mengakuinya tanpa ditutup-tutupi.

Cucurella senantiasa memastikan ketersediaan infrastruktur pendidikan khusus serta fasilitas layanan terapi autisme di suatu wilayah sebelum berani menyetujui pinangan transfer dari klub anyar, tidak terkecuali ketika ia mengambil keputusan pulang kandang merumput kembali di panggung La Liga.

"Jika keluarga saya baik-baik saja, saya juga bisa memberikan yang terbaik di lapangan," ungkapnya saat berbicara dalam acara Radioestadio Noche.

Meskipun ia harus berjibaku meramu jadwal padat kompetisi level internasional berdampingan dengan rutinitas pengasuhan ketiga buah hatinya, yakni Mateo, Rio, dan Bella, pasangan ini tetap merasa dianugerahi ketenteraman batin yang luar biasa dalam menjalani hidup.

"Bahkan satu langkah kecil ke depan membawa lebih banyak kebahagiaan daripada apa pun," katanya.

Melalui keberaniannya membuka lembaran pengalaman keluarga ke ruang publik, ia menyimpan asa agar kisahnya mampu merengkuh serta memotivasi para orangtua lain agar lebih sigap mengenali indikasi dini autisme sekaligus merasa tidak berjalan sendirian dalam menghadapi situasi serupa.

"Saya pikir anak-anak seperti Mateo itu luar biasa. Dia jelas telah mengubah hidup kami, memberi kami banyak kebahagiaan, dan memungkinkan kami melihat dunia dengan cara yang berbeda," pungkas Cucurella.

Terkini