Kredit Tumbuh 12,67%, Saham Perbankan Belum Bergerak Signifikan

Minggu, 26 Juli 2026 | 18:58:31 WIB
Laju Kencang Kredit Belum Kuat Dorong Saham Bank di Semester II-2026 [FOTO: NET].

JAKARTA - Penyaluran kredit perbankan melesat sepanjang tahun ini. Kendati performa sektor usaha tampak menjanjikan berkat kencangnya laju ekspansi kredit, bursa efek masih menantikan katalis positif yang sanggup mengangkat kembali harga saham korporasi perbankan.

Menjelang akhir Juni 2026, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan sukses menanjak 12,67% secara tahunan (year-on-year/yoy), mengalami percepatan dari capaian 11,51% yoy pada periode sebulan sebelumnya. Pada saat bersamaan, BI memilih mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) tetap pada posisi 5,75%.

Akan tetapi, realisasi tersebut tampaknya masih minim dampak terhadap pergerakan saham-saham perbankan. Menutup sesi perdagangan pekan kemarin, tepatnya Jumat (24/7/2026), tiada satu pun bank kategori kelompok modal inti besar (big banks) yang berhasil mencatatkan penguatan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 310,48 miliar, di mana harganya terkoreksi 3,09% dalam rentang sepekan dan stagnan harian pada level Rp 6.275. 

Begitu pula PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang merekam net sell asing sebesar Rp 35,85 miliar dengan nilai saham yang merosot 1,68% dalam sepekan serta 2,22% secara harian ke angka Rp 3.520.

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih sanggup menorehkan aksi beli bersih (net buy) asing sebesar Rp 43,43 miliar, sekalipun harga sahamnya tetap mengalami penurunan 0,34% dalam sepekan dan 1% secara harian ke posisi Rp 2.960. 

Di sisi lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bahkan mencatatkan net sell asing hingga mencapai Rp 862,1 miliar dengan harga yang merosot tajam 7,81% dalam sepekan serta 5,71% secara harian ke level Rp 4.130.

Menurut pandangan Kepala Riset KISI Muhammad Wafi, hakikatnya pencapaian pertumbuhan kredit serta kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan merupakan perpaduan yang kondusif bagi ekosistem saham perbankan. Hanya saja, imbas positif tersebut tertahan oleh kecemasan pasar terhadap potensi merosotnya marjin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Wafi memandang bahwa lonjakan optimal pada saham-saham sektor perbankan memerlukan pemicu yang lebih kuat, yakni adanya kepastian sinyal pemangkasan BI Rate. Namun demikian, ia memproyeksikan hal tersebut baru akan terwujud pada tahun 2027 mendatang. 

Alhasil, sepanjang semester II-2026 ini, eskalasi harga saham-saham perbankan belum akan melonjak tinggi.

Di luar faktor tersebut, tutur Wafi, laju pertumbuhan kredit yang kencang dalam kurun waktu ini justru menyimpan potensi kerawanan tersendiri.

“Di tengah daya beli yang tertekan, pertumbuhan kredit bisa berbalik jadi hambatan kredit macet di semester II, utamanya di segmen UMKM yang sudah kontraksi 5 bulan beruntun,” jelas Wafi kepada Kontan, Jumat (24/7/2026).

Walau demikian, ia melihat peluang apresiasi harga saham perbankan berkisar 15%–20% menuju target harga versi KISI dalam horizon 12 bulan masih terbuka lebar, dengan catatan bergantung pada keputusan MSCI pada November mendatang.

Apabila pihak MSCI memutuskan untuk mempertahankan status emerging market (EM) bagi Indonesia, gelombang aliran dana asing berpotensi masuk kembali. Dalam asumsi skenario tersebut, Wafi menyebutkan bahwa BBCA dan BMRI bakal mendulang tuah terbesar karena menjadi buruan utama para investor mancanegara.

Secara akumulatif, Wafi mengemukakan ada sejumlah faktor penentu yang patut dicermati guna membaca arah tren pergerakan saham perbankan pada paruh kedua tahun ini. 

Di antaranya mencakup realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi memantau aliran pembiayaan pemerintah, serta perkembangan kredit Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berisiko menjadi ancaman tersembunyi bagi kesehatan kualitas aset bank penyalur. 

Di samping itu, kata Wafi, indikator suku bunga acuan global juga bakal bertindak sebagai penentu krusial lantaran secara berkesinambungan akan menyetir arah kebijakan suku bunga BI.

Di lain pihak, Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menilai pada dasarnya kombinasi kencangnya laju pertumbuhan kredit serta ditahannya suku bunga acuan BI rate mampu membantu mempertahankan momentum perolehan pendapatan bunga sekaligus meredam potensi eskalasi beban dana lanjutan.

Kendati demikian, ruang penguatannya diprediksi bakal tetap selektif mengingat pasar turut menyoroti kapabilitas masing-masing bank dalam mengamankan marjin NIM, laju pertumbuhan laba, serta kualitas portofolio aset. 

Oleh sebab itu, evolusi struktur pendanaan bank, khususnya terkait porsi dana murah, wajib memperoleh perhatian khusus. Di samping itu, beban dana, rasio kredit macet, biaya pencadangan kredit, serta arus modal asing yang masuk ke bursa saham perbankan pun bakal menjadi penentu arah.

Secara makroekonomi, Kevin menuturkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah serta pergerakan imbal hasil (yield) obligasi turut memegang peranan penting lantaran sanggup memengaruhi minat investor asing serta valuasi saham emiten perbankan.

“Perlambatan konsumsi dan segmen UMKM juga tetap menjadi risiko, terutama bagi bank dengan eksposur besar pada kredit mikro dan konsumer,” imbuhnya.

Pilihan saham favorit dari Kevin dan Wafi kompak jatuh pada emiten BBCA dan BMRI.

Kevin memaparkan bahwa BBCA memiliki kerangka struktur pendanaan yang kokoh dengan dominasi simpanan dana murah, serta kualitas aset yang terpelihara relatif lebih baik. Ia menjatuhkan rekomendasi beli (buy) bagi saham BBCA dengan target harga pada level Rp 8.075.

Wafi menambahkan, BBCA mempunyai kondisi neraca keuangan yang paling prima dan diprediksi bakal menjadi pelabuhan utama investor asing apabila hasil peninjauan MSCI bernilai positif pada November mendatang. Rekomendasi yang diberikan adalah beli (buy) dengan target harga senilai Rp 6.400.

Beralih ke saham BMRI, Kevin memandangnya sebagai instrumen yang menarik mengingat ekspansi penyaluran kredit serta perolehan laba bersih perseroan tergolong tangguh. Kiwoom Sekuritas turut menyematkan rekomendasi beli (buy) pada saham BMRI dengan target harga di angka Rp 4.750, yang disandarkan pada perhitungan valuasi yang telah terdiskon.

Di sisi lain, Wafi berpendapat bahwa valuasi saham BMRI sudah berada di titik yang sangat murah menyusul koreksi curam yang dialaminya. Ia merekomendasikan agar investor mengambil sikap tahan (hold) terhadap saham BMRI sampai muncul kejelasan definitif mengenai keputusan akhir pihak MSCI kelak.

Terkini