Jelang Mandatori SAF 2027, Pertamina Percepat Ekosistem Bioavtur

Jumat, 24 Juli 2026 | 21:01:02 WIB
Pertamina Genjot Ekosistem Bioavtur Jelang Mandatori SAF 2027 [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Pertamina Patra Niaga tengah menggenjot percepatan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau yang dikenal sebagai bioavtur guna menjamin kesiapan penuh dalam mengimplementasikan kebijakan mandatori mulai tahun 2027 mendatang. 

Upaya tersebut ditempuh melalui penguatan pada lini produksi, ketersediaan pasokan bahan baku, hingga memperluas jalinan kolaborasi lintas industri.

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, mengemukakan bahwa pihak perusahaan telah merintis pengembangan produk SAF ini sejak lima tahun yang lalu. Langkah strategis itu diambil meskipun pada saat itu kondisi pasar maupun regulasi pendukung belum sepenuhnya terbentuk.

Ia memaparkan lebih lanjut bahwa kendati tantangan dari aspek komersial masih terbilang besar, perseroan lebih memilih untuk memulai langkah lebih awal tanpa harus menunggu pasar ataupun regulasi siap sepenuhnya.

"Kami telah melakukan uji coba bersama Garuda Indonesia dan Pelita Air, bahkan tahun ini sudah melakukan kontrak penjualan SAF dengan salah satu maskapai internasional untuk mendukung penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bali," ujar Joko dikutip dari keterangan resmi, Jumat (24/7/2026).

Menurut pandangannya, pengembangan produk bioavtur tidak hanya bertumpu pada kesiapan infrastruktur fasilitas produksi semata, melainkan menuntut terciptanya ekosistem yang terpadu secara menyeluruh. 

Ekosistem tersebut mencakup aspek keterjaminan bahan baku (feedstock), ketersediaan dukungan pembiayaan, keberadaan pihak pengguna akhir (offtaker), hingga sokongan regulasi yang memadai.

Pihak Pertamina Patra Niaga, imbuhnya, telah merancang serangkaian langkah operasional guna menyambut pemberlakuan mandatori pemanfaatan SAF sebesar 1% yang dijadwalkan mulai berlaku pada tahun 2027.

Ditinjau dari segi kapasitas produksi, ia menyampaikan bahwa fasilitas kilang di Cilacap telah berada dalam kondisi siap. Di samping itu, pada tahun ini perseroan juga melaksanakan uji coba proses co-processing di wilayah Dumai serta Balongan. 

Bersamaan dengan agenda tersebut, perusahaan turut membangun rantai pasok feedstock lewat skema kemitraan strategis serta mengembangkan sistem pengumpulan secara mandiri di internal agar ketersediaan bahan baku senantiasa terjaga.

"Harapannya, ketika mandat penggunaan SAF sebesar 1% mulai diterapkan tahun depan, Pertamina sudah siap memenuhi kebutuhan pasar," katanya.

Di luar penguatan pada aspek kesiapan produksi, pihak Pertamina juga berupaya memperlebar cakupan kerja sama dengan para pelaku industri berskala global. Sebagai wujud nyata, PT Pertamina (Persero) bersama dengan PT Pertamina Patra Niaga telah menunaikan penandatanganan nota kesepahaman bersama PT Boeing Indonesia dalam rangka mengakselerasi pengembangan ekosistem SAF di dalam negeri.

Ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi pelaksanaan program edukasi terkait SAF, pemetaan potensi ketersediaan bahan baku, penguatan kapasitas teknis, pengkajian potensi pasar, hingga pemberian advokasi kebijakan guna mendukung kelancaran implementasi SAF di Indonesia.

Joko menilai bahwa kemitraan strategis ini memegang peranan kunci sebagai salah satu langkah esensial untuk mempercepat adopsi pemanfaatan SAF pada sektor penerbangan nasional.

"Penandatanganan MoU ini kami harapkan menjadi akselerasi implementasi SAF di Indonesia. Dunia sudah mulai melihat kapabilitas Pertamina dalam memproduksi SAF dan produk kami juga sudah banyak dipakai di pesawat-pesawat Boeing dan sebagainya. Kolaborasi ini diharapkan semakin mengakselerasi ekosistem SAF di Indonesia," ujarnya.

Terkini