Panduan Mengganti Sikat Gigi dan Cara Penyimpanan yang Benar

Rabu, 22 Juli 2026 | 02:28:01 WIB
Kapan Sikat Gigi Harus Diganti? Ini Penjelasan dari Dokter [FOTO: NET].

JAKARTA - Sikat gigi merupakan instrumen yang dipakai harian demi memelihara kesehatan rongga mulut. Kendati demikian, perkakas serupa pun berpotensi menjadi tempat bersarangnya kuman, virus, serta jamur pascalemakaian, terkhusus tatkala seseorang tengah jatuh sakit. 

Lantas, seberapa seringkah kita wajib merotasi sikat gigi? Apakah alat pembersih gigi tersebut mesti lekas dibuang seusai pulih dari sakit?

Merujuk dari USA Today, Selasa (21/7/2026), American Dental Association menganjurkan pergantian sikat gigi tiap kurun waktu tiga hingga empat bulan. Walakin, durasi tersebut dapat dipangkas lebih lekas apabila filamen sikat sudah tampak usang. 

Dokter anak Jason Nagata dari UCSF Benioff Children's Hospital memaparkan bahwa helaian sikat yang telah mekar, membengkok, ataupun menjadi lembek menandakan bahwa sikat gigi tersebut sudah waktunya ditukar.

Kondisi tersebut bukan sekadar mengeliminasi aspek estetika sikat gigi, melainkan turut berdampak pada tingkat efisiensinya tatkala menggosok gigi. Bulu sikat yang telah beralih bentuk tidak lagi berfungsi secara maksimal guna mengakses seluruh area gigi beserta bagian sekitar gusi.

Dengan kata lain, tidak perlu menunggu sikat gigi terlihat sangat kotor untuk menggantinya. Perubahan pada bulu sikat bisa menjadi penanda sederhana yang perlu diperhatikan.

Setelah sakit, tak selalu harus langsung membuang sikat gigi Banyak orang khawatir sikat gigi yang digunakan saat sakit dapat menyebabkan infeksi kembali. Padahal, menurut Nagata, infeksi ulang dari sikat gigi sendiri tergolong jarang terjadi pada kebanyakan orang sehat.

“Sistem kekebalan tubuh biasanya sudah mengembangkan antibodi dan pertahanan lain yang dapat mengenali serta menghilangkan virus atau bakteri yang sama jika seseorang kembali terpapar dalam waktu dekat setelah sembuh,” ujar Nagata.

Kendati demikian, dokter gigi dan prostodontis Briar Voy mengingatkan, sikat gigi yang disimpan dalam kondisi lembab atau wadah tertutup cenderung membuat bakteri bertahan lebih lama. Perhatian lebih perlu diberikan setelah mengalami infeksi tertentu.

Nagata menuturkan, pada infeksi bakterial layaknya radang tenggorokan akibat streptokokus, kuman tersebut sanggup bertahan pada sikat gigi hingga beberapa hari lamanya. Oleh sebab itu, menukar sikat gigi seusai merampungkan fase pengobatan dapat menjadi alternatif langkah preventif yang logis.

Simpan sikat gigi dengan benar agar tidak menjadi sumber kuman Di samping rutin mengganti sikat gigi, cara menyimpannya juga penting. Voy menyarankan agar sikat gigi dibilas menggunakan air mengalir setelah dipakai, kemudian disimpan dalam posisi tegak agar dapat mengering sempurna.

Sikat gigi juga sebaiknya tidak disimpan terlalu berdekatan dengan milik anggota keluarga lain. Menurut Voy, risiko kontaminasi silang dari sikat gigi yang diletakkan terlalu dekat justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan risiko infeksi ulang pada diri sendiri.

“Yang lebih kami khawatirkan adalah menularkan kuman kepada anggota keluarga lain dibandingkan mengalami infeksi ulang, akibat sikat gigi yang disimpan terlalu berdekatan,” kata Voy.

Ia jugaturut menganjurkan supaya publik tidak lekas mengenakan tutup ataupun wadah pelindung sikat gigi selagi bagian bulunya masih basah. Suasana yang basah dan lembap justru memicu kuman untuk bertahan hidup lebih lama.

Terkini