LKBN ANTARA Sebut AI Alat Bantu Jurnalis Bukan Penentu Berita

Senin, 09 Februari 2026 | 13:40:22 WIB
LKBN ANTARA Sebut AI Alat Bantu Jurnalis Bukan Penentu Berita

JAKARTA - Dunia jurnalistik kini berada di persimpangan jalan seiring dengan semakin dominannya peran teknologi dalam proses produksi berita. Di tengah semarak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, sebuah pesan penting mengenai batasan antara teknologi dan kreativitas manusia disuarakan oleh pemimpin kantor berita nasional. Direktur Utama Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Benny Siga Butarbutar menegaskan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hanya boleh menjadi alat bantu, bukan penentu dalam pembuatan sebuah karya jurnalistik.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran mengenai pesatnya perkembangan AI yang kini merambah ke industri media. Benny menekankan bahwa meski mesin mampu memproses data dengan kecepatan luar biasa, kendali strategis dan etis harus tetap berada di tangan manusia. “AI itu harus menjadi pengarah dan bukan penentu. Nah, penentunya tetap jurnalis,” kata Benny di sela peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Serang, Banten, Minggu.

Efisiensi dan Peran Strategis AI dalam Ruang Redaksi

Meskipun memberikan batasan yang tegas, Benny tidak menutup mata terhadap manfaat besar yang ditawarkan oleh teknologi ini. Ia mengakui bahwa perkembangan AI membawa dampak positif bagi industri media, salah satunya adalah AI bisa digunakan untuk memangkas waktu dalam kerja-kerja terkait jurnalisme. Kecepatan pengolahan data menjadi aset berharga di era informasi yang menuntut aktualitas tinggi.

Pemanfaatan AI dapat membantu jurnalis dalam melakukan pemetaan awal terhadap sebuah isu sebelum terjun ke lapangan. “Dia membuka peluang karena dia membantu mempercepat proses. Contohnya untuk di level wartawan mengambil keputusan ini diliput atau enggak, sepenting apa, relevan apa enggak,” ujarnya. Dengan bantuan algoritma, jurnalis dapat menyaring informasi dalam skala besar, namun keputusan akhir mengenai urgensi berita tetap memerlukan pertimbangan manusiawi.

Keterbatasan Mesin: Sisi Emosi dan Moralitas Berita

Satu hal yang menjadi pembeda mutlak antara jurnalis manusia dengan algoritma adalah kedalaman rasa dan nurani. Benny menekankan bahwa AI tidak bisa menggantikan peran manusia dalam menuangkan aspek kemanusiaan pada karya jurnalistik. Menurutnya, sebuah berita bukan sekadar tumpukan kata dan data, melainkan cerminan dari emosi dan realitas sosial yang kompleks.

Dalam aspek tersebut, ia menekankan bahwa kapasitas jurnalis jauh melampaui logika biner yang dimiliki mesin. “Sisi emosi, sisi kemanusiaan masih belum sanggup (digantikan AI), walaupun dalam beberapa hal dia menjadi dominan, tapi wartawan itu punya kemampuan jauh lebih dari sekadar AI,” kata Benny. Kekuatan empati dalam wawancara dan sensitivitas terhadap isu-isu sosial tetap menjadi keunggulan eksklusif yang dimiliki oleh pewarta.

Menjaga Marwah Kreativitas di Era Disrupsi

Benny, yang pernah menjabat sebagai Kepala Biro di Tokyo, Jepang, juga mengingatkan agar penggunaan AI tidak menggerus kreativitas dan menabrak nilai-nilai jurnalistik. Ketergantungan yang berlebihan pada alat bantu berisiko mematikan orisinalitas dan kejernihan berpikir yang menjadi identitas seorang jurnalis. Teknologi harus diposisikan sebagai katalis, bukan pengganti otak manusia.

Baginya, peran AI sudah cukup jelas sebagai pendukung operasional. “Dia hanya sebagai alat bantu untuk membantu proses pengambilan keputusan, membantu mengarahkan menjadi lebih baik, membantu untuk memberikan sebuah solusi,” katanya. Jika jurnalis membiarkan AI mengambil alih peran kreatif, maka esensi dari jurnalisme itu sendiri terancam pudar.

Tantangan bagi Jurnalis Muda di Masa Depan

Menghadapi masa depan yang kian digital, tantangan bagi profesi ini tidak hanya datang dari kecanggihan mesin, tetapi juga dari integritas informasi itu sendiri. Terkait hal itu, Benny mengingatkan kepada para jurnalis, khususnya jurnalis muda untuk terus menggali dan mengembangkan potensi diri, memperluas perspektif dan mempertajam skill jurnalistik untuk tetap relevan di era disrupsi informasi, maraknya hoaks, serta perkembangan kecerdasan buatan.

Keberadaan AI seharusnya memicu para jurnalis untuk meningkatkan standar kualitas mereka, bukan malah membuat mereka terlena dengan kemudahan instan. Keahlian dalam memverifikasi data, membangun konteks, dan menghadirkan cerita yang menyentuh nurani adalah benteng terakhir jurnalisme manusia yang tidak akan pernah bisa direplikasi secara utuh oleh kecerdasan buatan manapun.

Terkini