JAKARTA - Upaya menekan angka stunting di Jawa Timur terus diperkuat melalui pengawasan langsung terhadap implementasi program strategis nasional. Fokus utama kini tertuju pada efektivitas distribusi bantuan gizi bagi kelompok paling rentan di tingkat desa. Kemenko PMK bersama Kemendukbangga/BKKBN Jatim meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD di Desa Larangan, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jumat (6/2).
Langkah jemput bola ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap paket nutrisi yang dikirimkan benar-benar mencapai meja makan keluarga yang membutuhkan. Kunjungan kerja yang dipimpin Asisten Deputi Peningkatan Gizi dan Pencegahan Stunting, Jelsi Natalia Marampa, ini menjadi momen dialog dengan berbagai pihak sekaligus memastikan distribusi MBG 3B berjalan sesuai standar dan tepat sasaran. Peninjauan ini menekankan bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya terletak pada ketersediaan anggaran, tetapi pada ketepatan eksekusi di lapangan.
Kolaborasi Strategis dan Standar Kualitas Pangan
Dalam kunjungan tersebut, ditekankan bahwa penanganan gizi buruk memerlukan kerja sama kolektif yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, hingga perangkat desa. Keterpaduan langkah menjadi syarat mutlak agar program tidak berjalan sendiri-sendiri. “Kolaborasi semua pihak menjadi kunci agar program ini tidak hanya berjalan, tetapi memberi dampak nyata bagi ibu dan anak,” kata Jelsi Natalia Marampa saat memberikan arahan di sela peninjauan.
Selain aspek distribusi, tim pemantau memberikan perhatian khusus pada kualitas produk yang disalurkan kepada masyarakat. Pengawasan ketat diberlakukan untuk memastikan standar gizi yang diterima para ibu dan balita telah memenuhi kebutuhan perkembangan fisik dan otak. Selain itu, kualitas gizi, keamanan pangan, dan kebersihan makanan tetap menjadi perhatian utama tim kunjungan. Hal ini penting untuk menghindari risiko kesehatan tambahan dan menjamin efektivitas program dalam jangka panjang.
Peran Vital Tim Pendamping Keluarga di Garda Terdepan
Keberhasilan program MBG 3B di Desa Larangan tidak lepas dari peran aktif para petugas lapangan yang bersentuhan langsung dengan warga. Mekanisme pengawasan dilakukan secara berlapis untuk memastikan asupan nutrisi tersebut benar-benar dikonsumsi oleh sasaran yang tepat. Tim juga meninjau peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) Desa Larangan, yang mendampingi penerima manfaat mulai dari distribusi hingga memastikan makanan dikonsumsi sesuai ketentuan.
Keberadaan TPK ini menjadi instrumen penting untuk melakukan edukasi kepada para ibu mengenai pentingnya pola makan sehat. Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan tidak ada paket makanan yang terbuang atau tidak dikonsumsi sebagaimana mestinya. Interaksi intensif antara petugas dan warga menjadi saluran informasi yang efektif untuk mendeteksi sedini mungkin jika terdapat kendala dalam pemenuhan gizi di tingkat rumah tangga.
Integrasi Data dan Koordinasi Lintas Sektor
Dari sisi manajerial, sinkronisasi data menjadi fondasi utama agar program tepat sasaran. BKKBN Jawa Timur menegaskan kesiapannya untuk menyediakan data pendukung yang akurat guna memetakan keluarga-keluarga yang masuk dalam kategori berisiko. Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Ghana Renaldi Pasca Surya, menegaskan bahwa pihaknya siap memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk melalui peran Penyuluh KB dan TPK dalam penyediaan data keluarga berisiko stunting serta pendistribusian MBG 3B.
Pemutakhiran data secara berkala memungkinkan pemerintah untuk melakukan intervensi yang lebih presisi dan tidak salah sasaran. Dengan basis data yang kuat, setiap sumber daya yang dikeluarkan dapat dialokasikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan gizi mendesak. “Data akurat dan pendampingan aktif menjadi fondasi agar program ini efektif,” ujarnya. Melalui penguatan koordinasi ini, diharapkan program MBG 3B di Sidoarjo dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam upaya mewujudkan generasi emas bebas stunting.