Pentingnya Tas Siaga Bencana untuk Bertahan Tiga Hari Pertama

Kamis, 05 Februari 2026 | 13:56:53 WIB
Pentingnya Tas Siaga Bencana untuk Bertahan Tiga Hari Pertama

JAKARTA - Kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kini menjadi kebutuhan mendesak bagi penduduk yang menetap di titik-titik rawan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya kepemilikan "Tas Siaga Bencana" bagi setiap individu. Tas ini dirancang bukan sekadar sebagai perlengkapan tambahan, melainkan sebagai instrumen vital untuk menjamin ketersediaan makanan, minuman, dan kebutuhan dasar lainnya dalam fase kritis awal bencana.

Dalam sebuah seminar daring mengenai kesehatan dan kebencanaan bertema "Antisipasi Gadar Bencana dalam Situasi Cuaca Ekstrem" yang diselenggarakan oleh Puslatkesda DKI Jakarta pada Rabu, urgensi persiapan ini dikupas tuntas. Standar waktu yang ditetapkan untuk isi tas tersebut adalah minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tiga hari.

"Tiga hari menjadi standar untuk masa tanggap darurat awal," terang Ketua Subkelompok Logistik dan Peralatan BPBD DKI Jakarta, Michael Sitanggang. Pemilihan angka tiga hari tersebut didasarkan pada perhitungan logistik di lapangan saat situasi darurat terjadi.

Alasan Krusial di Balik Standar Waktu Tiga Hari

Menghadapi bencana seperti banjir besar, koordinasi bantuan pemerintah memerlukan waktu untuk terdistribusi secara merata. Michael menjelaskan bahwa dalam kurun waktu 72 jam pertama, kondisi lapangan biasanya masih sangat dinamis dan belum sepenuhnya stabil. Biasanya, setelah melewati hari ketiga, barulah fasilitas penunjang seperti tenda pengungsian, dapur umum, dan bantuan logistik dari pemerintah pusat maupun daerah sudah tersedia secara memadai bagi masyarakat terdampak.

Oleh karena itu, kemandirian warga dalam tiga hari pertama menjadi kunci keselamatan. "Jadi masa tangkap darurat awal itu biasanya bagaimana dalam waktu tiga hari awal itu biasanya semuanya masih belum siap," katanya. Dengan memiliki tas yang siap angkut, warga tidak perlu lagi panik mencari perlengkapan saat air mulai masuk ke pemukiman atau saat instruksi evakuasi dikeluarkan.

Komposisi Ideal dalam Tas Siaga Bencana

Tas siaga tidak harus menggunakan tas khusus yang mahal; masyarakat dapat menggunakan tas ransel atau tas apa saja yang cukup kuat untuk memuat barang-barang penting secara praktis. Komponen utama yang wajib masuk ke dalam tas ini mencakup dokumen-dokumen berharga. Menariknya, BPBD menyarankan dokumen ini disimpan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga cadangan digital.

Selain pakaian untuk kebutuhan tiga hari, terdapat daftar barang esensial yang sebaiknya selalu siap di dalam tas, antara lain:

Air mineral secukupnya.

Alat komunikasi dan pengisi daya (power bank).

Alat bantu darurat seperti peluit untuk memberi sinyal dan senter untuk penerangan.

Uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan mendesak.

Obat-obatan pribadi serta kotak P3K.

Makanan ringan yang memiliki masa kedaluwarsa lama dan tinggi energi, seperti biskuit.

Perlengkapan protokol kesehatan seperti masker dan pencuci tangan (hand sanitizer).

"Apabila terjadi kedaruratan bencana, dalam kondisi yang sangat cepat, maka bisa langsung ambil tas siaga bencana ini untuk menuju ke lokasi pengungsian," ujar Michael. Kesiapan ini menjadi pembeda utama antara proses evakuasi yang tenang dengan situasi yang kacau.

Pemetaan Wilayah Rawan dan Kondisi Terkini Jakarta

Himbauan ini bukan tanpa alasan, mengingat Jakarta tengah memasuki masa puncak musim hujan dengan intensitas tinggi. Berdasarkan catatan BPBD DKI Jakarta, terdapat setidaknya 25 kelurahan yang tersebar di 17 kecamatan yang masuk dalam kategori rawan banjir dan memerlukan kewaspadaan ekstra.

Wilayah-wilayah tersebut meliputi Pluit, Pademangan Barat, Rorotan, Rawa Buaya, Tegal Alur, Kedoya Selatan, dan Kedoya Utara. Di wilayah lain, terdapat pula Rambutan, Cawang, Cililitan, Cipinang Melayu, Kebon Pala, Makasar, Bidara Cina, Kampung Melayu, Pondok Labu, Cipete Utara, Petogogan, Cipulir, Pondok Pinang, Bangka, Jati Padang, Pejaten Timur, dan Ulujami.

Faktanya, pada hari yang sama saat seminar tersebut berlangsung, beberapa titik di Jakarta sudah mulai terdampak luapan air. Di kawasan Jalan Pondok Karya Komplek RW 04, Pela Mampang, Jakarta Selatan, ketinggian air sempat menyentuh angka 45 sentimeter (cm). Banjir yang dipicu oleh hujan lokal intensitas lebat dan luapan Kali Mampang tersebut berdampak pada sembilan Rukun Tetangga (RT) di empat Rukun Warga (RW). Meski demikian, dilaporkan belum ada warga yang mengungsi dari lokasi tersebut.

Kondisi serupa terjadi di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan. Sebanyak 39 RT di wilayah tersebut sempat terendam air hingga ketinggian 30 cm akibat meluapnya Kali Krukut setelah diguyur hujan deras. Fenomena ini mempertegas bahwa ancaman bencana bisa datang sewaktu-waktu, sehingga memiliki tas siaga bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan bagi warga Jakarta.

Terkini