BCA Kuasai 50 Persen Pangsa Pasar Transaksi BI-FAST Nasional

Senin, 02 Februari 2026 | 10:12:29 WIB
BCA Kuasai 50 Persen Pangsa Pasar Transaksi BI-FAST Nasional

JAKARTA - Dalam lanskap perbankan digital Indonesia yang terus berkembang pesat, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar pada layanan BI-FAST. Sepanjang tahun 2025, bank swasta terbesar di Indonesia ini mencatatkan performa yang sangat impresif, dengan volume dan nilai transaksi yang mendominasi lebih dari separuh total transaksi industri nasional. Keberhasilan ini mencerminkan tingginya kepercayaan nasabah terhadap keandalan infrastruktur digital yang dimiliki oleh emiten berkode saham BBCA tersebut.

Hingga tutup buku Desember 2025, penetrasi layanan BI-FAST di ekosistem BCA menunjukkan angka yang luar biasa. Strategi perusahaan dalam mengintegrasikan sistem pembayaran ritel yang efisien ini ke berbagai kanal perbankan miliknya telah membuahkan hasil nyata, sekaligus memperkuat pendapatan non-bunga perusahaan.

Dominasi Mutlak di Tengah Pertumbuhan Industri

Kinerja positif BCA ini berjalan selaras dengan tren industri perbankan nasional yang semakin beralih ke sistem pembayaran real-time. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn, memaparkan data yang memperlihatkan skala operasional BCA yang sangat masif. Hingga Desember 2025, BCA telah memproses sekitar 2.289 juta transaksi BI-FAST. Nilai dari seluruh transaksi tersebut mencapai angka fantastis, yakni Rp 6.087 triliun.

Pencapaian ini menempatkan BCA sebagai pemain utama yang memegang kendali lebih dari 50% transaksi BI-FAST di seluruh industri perbankan tanah air. Sebagai konteks, data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa total transaksi ritel melalui BI-FAST di seluruh industri mencapai Rp 11.995 triliun pada tahun 2025, dengan pertumbuhan sebesar 34,58% secara tahunan (yoy). Sementara itu, dari sisi volume, industri mencatatkan 4,77 miliar transaksi atau naik 39,07% yoy. Dengan angka-angka tersebut, kontribusi BCA menjadi tulang punggung utama dalam digitalisasi sistem pembayaran nasional.

Eksplorasi Layanan Tahap Dua dan Segmen Korporasi

Fokus pengembangan BI-FAST kini mulai bergeser pada layanan tahap dua yang lebih kompleks. Secara industri, layanan tahap dua ini telah mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 9,55 triliun dengan volume mencapai 151.000 transaksi. Layanan ini mencakup fitur-fitur yang lebih spesifik seperti transfer kolektif (bulk credit transfer/BCT), pembayaran atas permintaan (request for payment/RFP), hingga transfer debit langsung (direct debit transfer/DDT).

Menanggapi implementasi fitur-fitur baru ini, Hera F. Heryn menyatakan bahwa BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian sembari terus memperkuat basis teknologinya. Hera bilang BCA saat ini masih mencermati perkembangan implementasi layanan tersebut sambil terus memperkuat infrastruktur digital perbankan. Penguatan infrastruktur ini, terutama untuk fitur BCT dan DDT, diprediksi akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi transaksi digital, khususnya untuk memenuhi kebutuhan nasabah di segmen korporasi yang memerlukan efisiensi tinggi.

Optimisme Peningkatan Volume dan Pendapatan Komisi

Manajemen BCA memandang masa depan digitalisasi perbankan dengan rasa optimis. Integrasi sistem BI-FAST ke dalam berbagai kanal layanan, mulai dari aplikasi mobile hingga platform perbankan internet, diharapkan akan terus mendongkrak volume transaksi di masa mendatang. Hal ini bukan hanya soal kenyamanan nasabah, tetapi juga strategi bisnis yang berkelanjutan.

“Kami berharap volume transaksi menggunakan BI Fast akan terus meningkat sejalan dengan diimplementasikannya sistem tersebut di sejumlah kanal BCA serta meningkatnya kebutuhan digitalisasi sistem pembayaran,” jelas Hera kepada Kontan, awal pekan lalu.

Alasan di balik optimisme ini sangat jelas; setiap transaksi BI-FAST yang diproses melalui sistem BCA memberikan dampak ekonomi langsung bagi perusahaan. Transaksi tersebut memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan berbasis komisi dan provisi (fee-based income) perseroan selama ini. Dengan skala transaksi yang menembus ribuan triliun rupiah, lini pendapatan ini menjadi salah satu pilar stabilitas keuangan BCA di tengah persaingan bunga yang ketat.

Modernisasi Teknologi dan Keamanan Ekosistem Digital

Ke depan, tantangan perbankan digital bukan hanya terletak pada seberapa banyak transaksi yang bisa diproses, melainkan seberapa aman dan andal sistem tersebut melindungi aset nasabah. Menyadari hal ini, BCA menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem finansial digital melalui penyempurnaan dan modernisasi infrastruktur teknologi informasi.

Langkah strategis ini mencakup pembaruan sistem secara berkala guna memastikan bahwa kapasitas server dan tingkat keamanan siber tetap berada di level tertinggi. Upaya modernisasi ini dilakukan guna menjaga keandalan dan keamanan layanan transaksi digital, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah dan mendorong pertumbuhan transaksi digital perbankan di Indonesia.

Dengan target pertumbuhan yang terukur dan penguasaan pasar yang dominan, BCA tampaknya masih akan menjadi nahkoda utama dalam transformasi sistem pembayaran nasional melalui BI-FAST. Keberhasilan mencapai angka transaksi Rp 6.087 triliun pada tahun 2025 hanyalah satu tonggak sejarah sebelum perusahaan melangkah lebih jauh ke dalam fitur-fitur perbankan digital yang lebih canggih dan terintegrasi di masa depan.

Terkini