Pemanfaatan Bendungan NTB untuk PLTS Terapung Percepat Energi Hijau

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:33:42 WIB
Pemanfaatan Bendungan NTB untuk PLTS Terapung Percepat Energi Hijau

JAKARTA - Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memanfaatkan bendungan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung.

Langkah ini merupakan inovasi dalam pengembangan energi terbarukan di wilayah tersebut. 

Sekitar 20 persen dari total 77 bendungan yang tersebar di NTB telah dipetakan untuk dapat dioptimalkan sebagai tempat instalasi PLTS terapung, sebuah inovasi yang dinilai mampu mempercepat pemanfaatan energi bersih tanpa hambatan yang biasanya terkait pembebasan lahan.

Memaksimalkan Potensi Bendungan untuk Energi Bersih

Pemanfaatan bendungan untuk pembangunan PLTS terapung merupakan langkah strategis yang dinilai sangat efektif. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, Samsudin, menyampaikan bahwa instalasi panel surya di atas permukaan air bendungan memungkinkan penggunaan lahan yang sudah tersedia tanpa harus melakukan pembebasan tanah baru. 

Hal ini tentu sangat menguntungkan dari sisi waktu dan biaya, mengingat proses pembebasan lahan selama ini sering menjadi kendala utama dalam proyek energi baru terbarukan.

PLTS terapung ini memungkinkan pengoperasian langsung tanpa perlu menunggu izin atau proses panjang, sehingga dapat segera menyumbang pasokan listrik bersih bagi wilayah NTB dan sekitarnya. Dengan konsep ini, biaya produksi energi listrik bisa ditekan lebih rendah dibandingkan pembangunan PLTS konvensional di darat.

Fokus pada Bendungan Bintang Bano, Sumbawa Barat

Salah satu bendungan yang menjadi sorotan utama untuk pengembangan PLTS terapung adalah Bendungan Bintang Bano yang terletak di Kabupaten Sumbawa Barat. Bendungan ini memiliki kapasitas daya tampung air mencapai 76 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 256 hektare. 

Selain berfungsi sebagai sumber air untuk irigasi sawah seluas 6.700 hektare, bendungan ini memiliki potensi besar untuk dijadikan lokasi instalasi panel surya terapung yang dapat mendukung pasokan energi listrik ramah lingkungan.

Bendungan Bintang Bano telah menjadi fokus perhatian para investor dan pemerintah dalam upaya menjadikan NTB sebagai salah satu pusat energi baru terbarukan terbesar di Indonesia. 

Dengan luas genangan yang besar, bendungan ini sangat cocok untuk mengakomodasi instalasi panel surya terapung yang dapat menghasilkan listrik secara optimal.

Data Potensi Energi Terbarukan NTB

Dinas ESDM NTB mencatat total potensi listrik bersih yang dapat dihasilkan dari berbagai sumber energi terbarukan di wilayah ini mencapai sekitar 13.563 megawatt. 

Dari total tersebut, energi surya menyumbang potensi terbesar sebesar 10.628 megawatt, diikuti oleh tenaga angin sebesar 2.605 megawatt, bioenergi sekitar 298 megawatt, dan sampah kota sebesar 32 megawatt. Data ini menunjukkan bahwa NTB memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi hijau sebagai sumber listrik masa depan.

Potensi yang begitu besar tersebut mendorong pemerintah dan berbagai pihak untuk semakin serius dalam memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah demi meningkatkan ketahanan energi sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon.

Tingginya Intensitas Sinar Matahari di NTB

Keunggulan NTB dalam potensi energi surya juga didukung oleh data ilmiah mengenai intensitas radiasi matahari yang tinggi di wilayah ini. Penelitian dari Sekolah Tinggi Teknik PLN yang dilakukan oleh Heri Suyanto menunjukkan bahwa rata-rata intensitas penyinaran matahari di NTB mencapai 4,52 watt per meter persegi per jam.

Pengukuran lain di Desa Ai Kangkung, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, pada periode September hingga Januari 2015 mencatat radiasi energi surya dengan kisaran rata-rata sebesar 762,95 watt per meter persegi.

Data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengonfirmasi bahwa NTB merupakan salah satu daerah dengan intensitas radiasi matahari tertinggi di Indonesia. 

Di Kabupaten Sumbawa, intensitas radiasi matahari mencapai 5.747 watt per meter persegi per jam, lebih tinggi dibandingkan dengan Jayapura, Papua, yang sebesar 5.720 watt per meter persegi per jam. Kondisi ini menjadikan NTB sangat ideal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya, terutama PLTS terapung.

Diversifikasi Sumber Energi Terbarukan di NTB

Selain energi surya, NTB juga memiliki potensi energi terbarukan lainnya yang cukup signifikan, seperti tenaga angin, panas bumi, dan biomassa. Kepala Dinas ESDM NTB, Samsudin, menggarisbawahi pentingnya pengembangan seluruh potensi tersebut secara terpadu untuk mendukung kemandirian energi yang berkelanjutan.

Pengembangan berbagai sumber energi terbarukan ini diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan listrik domestik, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan industri hijau dan peningkatan ekonomi daerah.

Manfaat dan Tantangan Pengembangan PLTS Terapung

Pemanfaatan bendungan sebagai lokasi pembangunan PLTS terapung memberikan berbagai manfaat, seperti tidak perlu melakukan pembebasan lahan, biaya investasi yang lebih rendah, dan potensi produksi energi yang besar. 

Selain itu, penggunaan permukaan air juga membantu mengurangi penguapan air bendungan dan dapat memberikan efek pendinginan bagi panel surya, meningkatkan efisiensi produksi listrik.

Namun, tantangan yang dihadapi meliputi kebutuhan teknologi khusus untuk instalasi di atas air, pemeliharaan panel surya yang harus lebih intensif, serta koordinasi antarinstansi terkait untuk mendukung kelancaran proyek. 

Kerjasama yang erat antara pemerintah daerah, pusat, investor, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi tantangan ini.

Kontribusi PLTS Terapung terhadap Ketahanan Energi NTB

Dengan pembangunan PLTS terapung di bendungan-bendungan NTB, diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan energi di provinsi ini. 

Energi terbarukan yang dihasilkan akan mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, mendukung pengurangan emisi karbon, serta meningkatkan ketersediaan listrik di wilayah yang masih belum terjangkau listrik secara optimal.

Inisiatif ini juga sejalan dengan upaya nasional dalam mendukung energi hijau dan target Indonesia untuk mencapai net zero emission di masa mendatang.

Pemanfaatan 20 persen dari 77 bendungan di NTB sebagai lokasi PLTS terapung adalah langkah strategis dalam mengoptimalkan sumber daya alam untuk energi bersih dan berkelanjutan. 

Keunggulan intensitas radiasi matahari yang tinggi serta potensi energi terbarukan lain membuat NTB menjadi wilayah yang sangat berpeluang menjadi pusat energi hijau di Indonesia. 

Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi, memperkuat ketahanan energi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan di masa depan.

Terkini