Optimisme Danantara: Garuda Indonesia Menuju Laba Bersih di Tahun 2026

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:13:28 WIB
Optimisme Danantara: Garuda Indonesia Menuju Laba Bersih di Tahun 2026

JAKARTA - Tahun 2026 diprediksi akan menjadi babak baru bagi maskapai pembawa bendera bangsa, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Setelah melewati fase restrukturisasi yang panjang, kini perhatian beralih pada kecepatan pemulihan dan penguatan fundamental keuangan perusahaan. Di bawah payung pengelolaan aset negara yang baru, harapan akan kembalinya kejayaan sang "Garuda" tidak lagi sekadar wacana, melainkan mulai terjustifikasi melalui pergerakan instrumen di pasar modal yang menunjukkan tren positif sejak pembukaan tahun.

Danantara memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi titik balik dalam akselerasi pemulihan kinerja Garuda Indonesia (GIAA) yang selaras dengan program transformasi komprehensif yang saat ini tengah dilaksanakan. Akselerasi pemulihan kinerja tersebut terefleksikan dari pergerakan saham yang mengindikasikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek Garuda Indonesia dalam jangka panjang.

Respons Positif Pasar dan Lonjakan Harga Saham GIAA

Gairah investor terhadap maskapai plat merah ini terlihat jelas dari aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada periode awal tahun. Indikasi tersebut tercermin dari lonjakan harga saham Garuda Indonesia (GIAA) yang meningkat sebesar 9,76 persen pada awal Januari lalu, hingga ke posisi Rp 90 per lembar saham. Kenaikan ini dipicu oleh adanya perubahan struktur kepemilikan saham yang melibatkan entitas pengelola aset negara, yang dipandang sebagai sinyal kuat dukungan penuh pemerintah.

“Pasar telah merespons positif pemulihan kinerja Garuda Indonesia, yang tercermin dari lonjakan tajam harga saham Garuda Indonesia pada awal Januari lalu,” seperti dikutip dari Danantara Economic Outlook 2026 yang digelar pada Selasa. Danantara Indonesia memandang prospek sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) termasuk Garuda Indonesia yang tengah menjalani fokus transformasi menunjukkan perbaikan yang nyata.

Dukungan Modal Jumbo dan Strategi Reaktivasi Armada

Salah satu faktor pembeda dalam proses pemulihan kali ini adalah ketersediaan likuiditas yang cukup masif untuk mendukung operasional. Dalam Economic Outlook 2026, Danantara menyebut sejumlah faktor turut menjadi pendorong akselerasi kinerja Garuda Indonesia, termasuk dukungan pendanaan dalam bentuk shareholder loan (SHL) dan suntikan modal usaha senilai Rp 23,63 triliun dari Danantara.

Dana segar ini merupakan bagian dari proses restrukturisasi yang digunakan untuk mendukung berbagai aspek teknis yang krusial. Alokasi tersebut difokuskan pada program perawatan pesawat, reaktivasi armada yang sempat terparkir, hingga peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang kembali pulih. Selain itu, opsi integrasi Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air juga dipandang sebagai upaya mengurangi redundansi dan meningkatkan sinergi khususnya dalam pengadaan bahan bakar.

Pentingnya Efisiensi Operasional Tanpa Mengabaikan Keselamatan

Meskipun suntikan modal tersedia, tantangan di industri penerbangan tetaplah besar, terutama terkait biaya operasional. Analis Independen Bisnis Penerbangan Gatot Rahardjo menilai bahwa berbagai upaya transformasi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia tersebut, perlu dibarengi dengan langkah efisiensi. Ia menyampaikan salah satu kunci untuk mendukung kesuksesan bisnis maskapai penerbangan adalah dengan melakukan efisiensi, baik itu dalam operasional penerbangan maupun non-operasional penerbangan.

Gatot menuturkan secara rinci langkah-langkah yang bisa diambil perusahaan. "Efisiensi operasional penerbangan misalnya dapat dilakukan dengan banyak hal, seperti operasional pesawat yang lebih hemat bahan bakar, pemilihan rute dan jaringan rute yang lebih menguntungkan, serta bekerja sama dengan Airnav untuk menjalankan performance base navigation (PBN) dalam penerbangan. Adapun untuk non-operasional penerbangan misalnya, dapat dilakukan dalam hal pengelolaan SDM, penggunaan teknologi informasi (online) untuk operasional kantor, efisiensi proses dan prosedur dan lainnya."

Keseimbangan Antara Bisnis dan Standar Aviasi

Namun, Gatot memberikan catatan penting bahwa efisiensi tidak boleh dilakukan secara membabi buta. "Namun demikian yang harus diperhatikan adalah bahwa efisiensi yang dilakukan maskapai penerbangan tidak boleh mengurangi aspek keselamatan penerbangan dan tidak boleh melanggar aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian keselamatan dan bisnis penerbangan dapat tetap berjalan beriringan untuk pengembangan bisnis maskapai tersebut," pungkas Gatot.

Melalui serangkaian aksi korporasi dan dukungan modal yang terukur tersebut, diproyeksikan dapat memperkuat portofolio bisnis Garuda Indonesia secara grup. Target akhirnya sudah jelas: program transformasi penyehatan kinerja yang sedang dijalankan diharapkan dapat berdampak signifikan pada pencatatan laba bersih dan ekuitas positif pada penutupan laporan keuangan akhir tahun 2026. Hal ini akan mengakhiri periode defisit dan membawa Garuda Indonesia kembali terbang tinggi di rute internasional maupun domestik.

Terkini