Harga Emas Terus Meningkat, Mendagri Sebut 3 Faktor Utamanya

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:19:54 WIB
Harga Emas Terus Meningkat, Mendagri Sebut 3 Faktor Utamanya

JAKARTA - Harga emas domestik kembali mencetak rekor baru pada 29 Januari 2026, setelah mencapai Rp3.003.000 per gram. Lonjakan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di pasar global. Harga emas dunia, bahkan, telah menembus angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni USD 5.500 per troy ounce. Fenomena ini memunculkan pertanyaan tentang apa yang menyebabkan lonjakan harga emas begitu signifikan. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian pun menjelaskan bahwa ada tiga faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas ini.

1. Geopolitik Global Dorong Emas Jadi Aset Utama

Tito Karnavian mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik di seluruh dunia menjadi salah satu penyebab utama mengapa harga emas terus melambung. Ketidakstabilan hubungan internasional dan ketegangan antarnegara menyebabkan investor dan pemerintah mencari instrumen yang lebih aman untuk menyimpan nilai cadangan mereka. Emas, sebagai aset yang telah lama dianggap sebagai bentuk penyimpanan nilai yang stabil, menjadi pilihan utama dalam situasi tersebut.

Kondisi geopolitik yang tidak pasti membuat banyak negara, terutama yang sedang menghadapi ketegangan dengan negara besar seperti Amerika Serikat, mengalihkan cadangan devisa mereka ke emas. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan finansial dan menghindari ketergantungan pada mata uang asing yang lebih rentan terhadap gejolak politik.

2. Rusia Beralih dari Dolar ke Cadangan Emas

Krisis yang ditimbulkan oleh perang antara Rusia dan Ukraina juga memainkan peran besar dalam lonjakan harga emas. Setelah cadangan devisa Rusia dibekukan oleh negara-negara Barat, Rusia menghadapi kesulitan untuk mempertahankan stabilitas ekonominya. Menurut Tito, negara tersebut kemudian beralih untuk mencari cadangan yang lebih aman, yaitu emas. Rusia mulai membeli emas dalam jumlah besar, yang menyebabkan lonjakan permintaan di pasar global.

Langkah Rusia ini berdampak pada keseimbangan pasar emas dunia, di mana permintaan untuk emas terus meningkat. Oleh karena itu, lonjakan permintaan yang dipicu oleh kebijakan Rusia ini secara langsung mempengaruhi harga emas global, yang pada gilirannya berdampak pada harga emas domestik, termasuk di Indonesia.

3. Negara Besar Ikut Menimbun Emas Dunia

Tindak lanjut dari kebijakan Rusia ini juga diikuti oleh beberapa negara besar lainnya, termasuk China dan India. Kedua negara ini, yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan Amerika Serikat, mulai meningkatkan cadangan emas mereka secara signifikan. Bahkan, China tidak hanya membeli emas di pasar internasional, tetapi juga membeli tambang emasnya sendiri untuk mengamankan pasokan.

Aksi pembelian masif dari negara-negara besar ini telah menciptakan fenomena yang disebut sebagai “gold rush” atau perburuan emas secara besar-besaran. Kenaikan permintaan ini secara serentak mengerek harga emas global. Tidak hanya itu, tindakan negara-negara besar ini turut mendorong investor dan negara lainnya untuk beralih ke emas sebagai cadangan nilai yang lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Dampak Kenaikan Harga Emas Terhadap Indonesia

Kenaikan harga emas dunia memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh pasar domestik, termasuk Indonesia. Karena harga emas domestik mengikuti pergerakan harga emas global, lonjakan harga emas di pasar internasional memicu kenaikan harga emas di Indonesia. Hal ini tentunya berimbas pada inflasi, yang sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga emas yang signifikan.

Selain itu, lonjakan harga emas ini menciptakan fenomena yang tidak biasa di Indonesia, di mana masyarakat beramai-ramai membeli emas. Gold rush yang terjadi di pasar emas domestik ini turut berkontribusi pada inflasi, yang semakin memperburuk kondisi ekonomi. Masyarakat yang berusaha melindungi kekayaan mereka dengan membeli emas membuat harga emas terus naik, sementara pemerintah berupaya mengendalikan dampak dari lonjakan ini.

Terkini