Strategi Perbankan Hadapi Risiko Kualitas Aset dan NPL Tahun 2026

Kamis, 29 Januari 2026 | 11:38:05 WIB
Strategi Perbankan Hadapi Risiko Kualitas Aset dan NPL Tahun 2026

JAKARTA - Memasuki tahun 2026, industri perbankan nasional diprediksi akan menghadapi dinamika baru yang menuntut kewaspadaan tinggi. Meskipun fase pemulihan ekonomi terus berlanjut, fokus utama para pelaku industri kini bergeser dari sekadar pertumbuhan likuiditas menuju penguatan kualitas aset. Di tengah proses normalisasi kebijakan moneter dan penyesuaian suku bunga, kesehatan portofolio kredit menjadi indikator paling krusial yang akan memisahkan bank yang mampu bertahan dengan mereka yang rentan.

Kualitas aset bukan lagi sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan menjadi tameng utama bagi perbankan untuk menavigasi tantangan ekonomi sepanjang tahun ini. Para analis melihat bahwa kemampuan bank dalam mengelola risiko akan menjadi faktor penentu persepsi investor dan stabilitas operasional secara jangka panjang.

Potensi Fase Kenaikan NPL di Segmen Konsumer dan UMKM

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) melalui riset sektor perbankan yang dipublikasikan pada pertengahan Januari 2026 memberikan peringatan dini mengenai kondisi ini. Menurut riset tersebut, kualitas aset akan menjadi pembeda fundamental antara institusi perbankan satu dengan lainnya. Analis BRIDS, Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menyoroti bahwa rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) masih membayangi industri.

Segmen-segmen tertentu dinilai belum sepenuhnya pulih dan masih menyimpan risiko delinquensi yang patut diwaspadai. “Kami menilai NPL masih berpotensi berada dalam fase upcycle pada 2026, dengan risiko delinkuensi yang lebih tinggi berasal dari kredit konsumer dan UMKM," seperti dikutip dalam riset, Rabu (28/1/2026). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aktivitas ekonomi meningkat, daya bayar di sektor mikro dan konsumsi rumah tangga masih memerlukan perhatian ekstra agar tidak mengganggu kesehatan neraca bank.

Resiliensi BCA di Tengah Tantangan Kualitas Kredit

Dalam konteks manajemen risiko yang ketat, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) muncul sebagai entitas yang mendapat sorotan positif. Keberhasilan bank ini dalam menekan risiko tercermin dari perbaikan rasio loan at risk (LAR) pada tahun 2025 yang turun menjadi 4,8%, dibandingkan posisi 5,3% pada tahun sebelumnya.

Efektivitas manajemen risiko BCA juga terlihat dari rasio NPL yang terjaga di level 1,7%. Angka ini didukung oleh kebijakan pencadangan yang sangat konservatif dan memadai, di mana pencadangan NPL tercatat sebesar 183,8% dan cadangan LAR berada di angka 71,6%. Tingginya cadangan ini memberikan bantalan yang tebal bagi perseroan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di tahun 2026.

Analisis Rekomendasi Saham Sektor Perbankan

Berdasarkan data performa tersebut, BRIDS menempatkan saham BBCA sebagai pilihan utama dalam sektor ini karena posisinya yang dinilai lebih defensif. "Kami memilih BBCA sebagai top pick karena didukung oleh profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan dengan peers," ujarnya.

Kepercayaan ini juga diikuti dengan proyeksi keuangan yang optimistis, di mana BBCA diprediksi mampu meraup laba hingga Rp57,63 triliun pada tahun 2026. Atas dasar tersebut, BRIDS menyarankan status buy dengan target harga di level Rp10.800 per lembar saham. Strategi defensif ini dianggap paling masuk akal mengingat ancaman kenaikan NPL pada segmen-segmen kredit yang lebih berisiko.

Prospek Laba Bersih dan Pembalikan Biaya Pendanaan

Senada dengan pandangan tersebut, laporan dari CGS International per Desember 2025 mengakui bahwa operasional industri perbankan masih berada dalam situasi yang penuh tantangan. Kendati demikian, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa disiplin dalam manajemen risiko akan menjadi kunci bagi bank untuk tetap resilient.

Para analis CGS, yakni Handy Noverdanius, Owen Tjandra, dan Elizabeth Noviana, tetap mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan. Optimisme ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba bersih yang lebih cerah di tahun 2026. "Kami mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor ini karena kami melihat prospek laba bersih yang lebih baik di 2026F, didorong oleh volume kredit yang meningkat dan tren pembalikan pada biaya pendanaan," ujar mereka dalam laporan risetnya.

Fokus pada Segmen Wholesale dan Inflow Dana Asing

CGS International juga menjagokan BBCA sebagai pilihan utama mereka, namun dengan sudut pandang yang sedikit berbeda, yakni fokus pada penguasaan segmen wholesale. Segmen ini diprediksi akan mendapatkan sentimen positif seiring dengan membaiknya iklim bisnis secara umum. Selain itu, stabilitas kualitas kredit yang ditunjukkan BBCA menjadikannya magnet bagi masuknya aliran dana asing (foreign fund inflow).

Kemampuan BBCA untuk menjaga kualitas kredit dibandingkan bank-bank pesaing lainnya menjadi nilai jual utama di mata investor mancanegara. Dengan fundamental yang kokoh tersebut, CGS memberikan target harga bagi saham BBCA untuk menyentuh angka Rp10.700 dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Hal ini mempertegas bahwa di tahun 2026, kualitas aset adalah mata uang baru yang akan menentukan nilai sebuah institusi perbankan di pasar modal.

Terkini