Harga TBS Kelapa Sawit Riau Naik, Capai Rp3.544 per Kilogram

Selasa, 27 Januari 2026 | 12:31:54 WIB
Harga TBS Kelapa Sawit Riau Naik, Capai Rp3.544 per Kilogram

JAKARTA - Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau baru-baru ini mengumumkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya untuk periode 28 Januari hingga 3 Februari 2026. 

Pengumuman ini menunjukkan adanya kenaikan harga yang cukup signifikan, memberikan angin segar bagi petani kelapa sawit di provinsi tersebut. Harga TBS kelapa sawit pada periode ini tercatat naik menjadi Rp3.544 per kilogram, dengan harga cangkang mencapai Rp26,34 per kilogram.

Kenaikan Harga TBS di Kelompok Umur 9 Tahun

Kenaikan harga TBS tertinggi terdapat pada kelompok umur kelapa sawit 9 tahun, yang mengalami kenaikan sebesar Rp56,72 per kilogram atau sekitar 1,63% dari harga minggu sebelumnya. 

Hal ini menunjukkan adanya tren positif dalam sektor perkebunan sawit di Riau, yang tentunya akan memberikan dampak langsung pada pendapatan petani kelapa sawit. Kenaikan ini sangat berarti bagi mereka yang mengandalkan TBS sebagai komoditas utama dalam mata pencaharian mereka.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Dr. Defris Hatmaja, menyampaikan bahwa harga pembelian TBS oleh pihak pengolahan atau Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kini tercatat sebesar Rp3.544,28 per kilogram. 

Dengan harga cangkang yang tercatat sebesar Rp26,34 per kilogram, harga tersebut diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani sawit. 

Ini adalah upaya dari pemerintah daerah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani sawit di Riau, mengingat sektor ini merupakan salah satu pilar utama perekonomian daerah.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga

Kenaikan harga TBS kali ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti naiknya harga CPO (Crude Palm Oil) dan kernel (inti sawit) di pasar internasional. 

Harga CPO pada periode ini tercatat naik sebesar Rp169,34 per kilogram, sementara harga kernel mengalami kenaikan yang lebih signifikan, yaitu sebesar Rp467,94 per kilogram dibandingkan dengan minggu sebelumnya. 

Kenaikan harga CPO dan kernel ini tentunya memberikan dampak positif terhadap harga TBS, karena harga TBS kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh harga jual CPO dan kernel yang diproses dari TBS tersebut.

Harga CPO yang mengalami kenaikan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi harga minyak nabati di pasar global, serta permintaan yang tinggi untuk CPO sebagai bahan baku industri pangan dan energi terbarukan. 

Kenaikan harga CPO ini tidak hanya berdampak pada pabrik pengolahan kelapa sawit, tetapi juga mempengaruhi harga TBS yang diterima oleh petani.

Penetapan Harga TBS yang Lebih Baik

Dalam upaya untuk menciptakan tata kelola yang lebih baik dalam penetapan harga TBS, Dinas Perkebunan Riau bersama dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kejaksaan Tinggi Riau, berkomitmen untuk memastikan agar harga TBS selalu mencerminkan keadaan pasar yang sebenarnya. 

Keberhasilan dalam penetapan harga ini juga menunjukkan adanya perbaikan dalam sistem pengelolaan sektor perkebunan sawit di Riau.

Pada periode ini, harga CPO dan kernel yang digunakan sebagai acuan dalam perhitungan harga TBS adalah harga rata-rata KPBN (Kantor Pusat Badan Nega). 

Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 01 tahun 2018 pasal 8, yang menyatakan bahwa jika harga CPO atau kernel mengalami penurunan atau validasi 2, maka harga rata-rata KPBN akan digunakan sebagai dasar harga. Harga rata-rata CPO pada periode ini adalah Rp14.653 per kilogram, sementara harga kernel adalah Rp12.135 per kilogram.

Keputusan ini diambil untuk memastikan kestabilan harga TBS di tingkat petani, serta mencegah fluktuasi yang tajam yang bisa merugikan petani. Dengan sistem yang lebih terstruktur dan transparan, diharapkan dapat memberikan kepastian bagi para petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Harga TBS Kelapa Sawit Berdasarkan Umur Tanaman

Harga TBS kelapa sawit kemitraan swadaya di Riau pada periode 28 Januari hingga 3 Februari 2026 juga bervariasi tergantung pada umur tanaman kelapa sawit. Berikut adalah rincian harga TBS berdasarkan umur tanaman:

Umur 3 tahun: Rp2.741,39 per kilogram

Umur 4 tahun: Rp3.059,46 per kilogram

Umur 5 tahun: Rp3.285,52 per kilogram

Umur 6 tahun: Rp3.412,75 per kilogram

Umur 7 tahun: Rp3.489,40 per kilogram

Umur 8 tahun: Rp3.531,87 per kilogram

Umur 9 tahun: Rp3.544,28 per kilogram

Umur 10 hingga 20 tahun: Rp3.506,37 per kilogram

Umur 21 tahun: Rp3.446,36 per kilogram

Umur 22 tahun: Rp3.377,53 per kilogram

Umur 23 tahun: Rp3.299,27 per kilogram

Umur 24 tahun: Rp3.240,06 per kilogram

Umur 25 tahun: Rp3.191,41 per kilogram

Harga yang tercantum di atas mencerminkan perbedaan kualitas TBS berdasarkan umur tanaman kelapa sawit. Semakin tua umur tanaman, harga TBS yang diterima petani cenderung lebih rendah, meskipun masih memberikan keuntungan yang cukup bagi petani. 

Hal ini wajar mengingat kualitas dan produktivitas TBS akan menurun seiring bertambahnya usia tanaman. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk mengelola perkebunan mereka dengan baik agar dapat terus memperoleh hasil yang optimal.

Dampak Positif Kenaikan Harga TBS untuk Petani

Kenaikan harga TBS kelapa sawit ini tentu memberikan dampak positif bagi petani kelapa sawit di Riau. Dengan harga yang lebih tinggi, petani akan memperoleh pendapatan yang lebih besar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

 Ini juga berpotensi untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir yang mayoritas mengandalkan kelapa sawit sebagai sumber penghasilan utama mereka.

Selain itu, dengan harga yang stabil dan meningkat, petani akan memiliki insentif untuk terus meningkatkan produktivitas perkebunan mereka, seperti meningkatkan kualitas pemeliharaan tanaman, penggunaan pupuk yang tepat, serta pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Ke depannya, ini dapat berkontribusi pada terciptanya industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Tantangan Ke Depan

Meski harga TBS kelapa sawit mengalami kenaikan yang positif, masih ada berbagai tantangan yang dihadapi oleh petani kelapa sawit di Riau. Tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan iklim yang dapat mempengaruhi hasil panen kelapa sawit. 

Selain itu, masalah terkait penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan serta fluktuasi harga pasar global juga menjadi faktor yang mempengaruhi kestabilan pendapatan petani.

Untuk itu, upaya kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk menciptakan sektor kelapa sawit yang berkelanjutan, menguntungkan, dan ramah lingkungan. Dengan kebijakan yang lebih baik, serta dukungan dari berbagai pihak, sektor kelapa sawit Riau bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Pengumuman harga TBS kelapa sawit kemitraan swadaya Provinsi Riau yang tercatat pada periode 28 Januari hingga 3 Februari 2026 menunjukkan adanya kenaikan yang signifikan, yang akan berdampak positif pada kesejahteraan petani. 

Dengan adanya peningkatan harga ini, diharapkan para petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih baik dan meningkatkan produktivitas mereka dalam jangka panjang. Selain itu, perbaikan tata kelola harga TBS juga menjadi langkah penting untuk menciptakan industri kelapa sawit yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Terkini