Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Investor Amati Data Ekonomi China

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:24:40 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Tipis Investor Amati Data Ekonomi China

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia pada Selasa, 20 Januari 2026, menunjukkan penguatan tipis, seiring pasar global menimbang perkembangan ekonomi China yang beragam. 

Meskipun pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih memberi optimisme terhadap permintaan energi, data perdagangan menunjukkan adanya perlambatan pada beberapa segmen, menimbulkan ketidakpastian bagi investor dan pelaku pasar energi.

Harga minyak Brent tercatat US$ 63,98 per barel, naik tipis dibandingkan penutupan sebelumnya, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 59,48 per barel, mencatat penguatan terbatas. Sentimen ini muncul di tengah perhatian pasar terhadap ekonomi China, konsumen minyak terbesar dunia.

Optimisme Pertumbuhan China

Ekonomi China tumbuh 5,0 persen sepanjang 2025, sesuai target pemerintah. Kinerja ini memberi ruang bagi optimisme bahwa permintaan energi China masih relatif stabil meski konsumsi domestik terlihat lemah.

Namun, dari sisi perdagangan energi, terdapat sinyal pendinginan. Impor fuel oil China turun 10,4 persen secara tahunan menjadi 21,6 juta ton, setelah mencetak rekor pada 2024. 

Bea Cukai China mencatat penurunan ini terkait minat kilang independen yang menurun, seiring kenaikan pajak impor dan turunnya insentif pengembalian pajak.

Analis China senior dari Vortexa, Emma Li, menilai bahwa pelemahan permintaan fuel oil terutama berasal dari sisi bahan baku kilang. Kilang independen cenderung memprioritaskan minyak mentah daripada fuel oil selama kuota impor crude masih tersedia. 

Pergeseran ini menyebabkan permintaan fuel oil kehilangan daya dorong, meski aktivitas pengilangan secara keseluruhan masih mencatat rekor.

Tren Ekspor Marine Fuel China

Berbeda dengan tren impor fuel oil, ekspor marine fuel China justru meningkat. Sepanjang 2025, ekspor bahan bakar kapal, terutama very low sulphur fuel oil, naik 11,6 persen menjadi 20,47 juta ton. Lonjakan ini didukung peran pelabuhan Zhoushan, yang kini menyalip Fujairah dan menjadi hub bunker terbesar ketiga dunia.

Tren ini menunjukkan bahwa meski konsumsi domestik fuel oil menurun, China tetap menjadi pemain utama di pasar energi global, terutama di segmen ekspor marine fuel.

Faktor Geopolitik dan Ketidakpastian

Selain faktor ekonomi, pasar minyak juga mencermati isu geopolitik global. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait rencana kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara Eropa menambah lapisan ketidakpastian.

Ancaman tarif ini berpotensi memicu tensi dagang baru, yang dapat berdampak pada prospek pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi. Investor energi kini harus mempertimbangkan kombinasi faktor fundamental, perdagangan, dan geopolitik dalam strategi investasi mereka.

Analisis Pasar

Meski penguatan harga minyak terbatas, pengamatan terhadap data China menjadi kunci. Investor global memantau beberapa indikator, antara lain:

Pertumbuhan ekonomi China dan target PDB yang memengaruhi permintaan energi.

Tren impor fuel oil, termasuk kuota dan kebijakan kilang independen.

Ekspor marine fuel, yang menandakan pergeseran peran China dalam perdagangan energi internasional.

Ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait tarif impor dan tensi perdagangan global.

Dengan kombinasi faktor tersebut, pasar minyak menunjukkan volatilitas tinggi, tetapi tetap berada di level yang relatif stabil dibandingkan pekan sebelumnya.

Dampak Terhadap Pasar Global

Penguatan tipis harga minyak memberi sinyal bahwa pasar mulai menyerap informasi ekonomi dan geopolitik terbaru. Optimisme pertumbuhan China menopang permintaan energi, namun perlambatan impor fuel oil menahan laju kenaikan harga.

Selain itu, ekspor marine fuel yang meningkat menandakan China memanfaatkan peluang pasar luar negeri, sehingga sebagian kebutuhan energi global tetap terjaga. Kondisi ini berpotensi menjadi penyeimbang antara faktor domestik dan internasional.

Strategi Investor

Investor di sektor energi kini perlu mengamati kombinasi tren ekonomi China, kebijakan perdagangan, dan geopolitik. Keputusan membeli atau menjual kontrak minyak dan derivatif terkait tidak hanya bergantung pada data konsumsi, tetapi juga pada perubahan regulasi impor dan ekspor serta dinamika pasar global.

Emma Li menegaskan bahwa kilang independen lebih fokus pada crude oil, yang berarti dampak terhadap fuel oil domestik bisa bersifat sementara, sementara permintaan global untuk marine fuel masih kuat.

Harga minyak dunia menguat tipis pada Selasa, 20 Januari 2026, seiring pasar menimbang sinyal ekonomi China yang beragam. 

Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih menopang permintaan energi, tetapi perlambatan impor fuel oil menunjukkan adanya ketidakpastian.

Di sisi lain, ekspor marine fuel China menunjukkan tren positif, menandakan peran strategis China dalam perdagangan energi global tetap terjaga. Faktor geopolitik, terutama rencana kenaikan tarif impor Amerika Serikat terhadap Eropa, menambah lapisan risiko yang harus diperhatikan oleh investor.

Penguatan tipis ini menegaskan bahwa harga minyak sangat sensitif terhadap kombinasi faktor ekonomi domestik, perdagangan energi, dan kondisi geopolitik global, sehingga pengamatan cermat terhadap indikator utama menjadi kunci bagi strategi pasar.

Terkini